[She Says] Episode 7: Wake Up Call


Aneh.

Waktu cowok itu muncul di depan gedung kantor gue sambil menenteng payung gue, tiba-tiba gue ngerasa seolah-olah gue baru aja terbangun dari tidur yang sangat panjang.  Satu suara kecil di kepala gue tahu-tahu berbisik: elo yakin cinta yang elo berikan buat cowok elo itu nggak didasari sama kebutuhan elo buat hang on to someone?  Think again, Taya.  Apakah alasan-alasan berikut ini adalah penyebab kenapa elo rela jadi selingkuhan cowok lo?

 

  1. Adek lo udah mau tunangan
  2. Temen-temen elo — yang jumlahnya bisa dihitung pake jari — kebanyakan udah punya karir yang stabil, dan beberapa malah udah punya keluarga masing-masing atau sedang dalam perjalanan ke sana

 

See?  Elo takut.  Elo takut berakhir sendirian.  Elo takut elo nggak bakal nemuin seseorang yang mengerti dan mau menerima elo apa adanya.  Itu kan alasan kenapa elo mempertahankan hubungan ini?

But let’s face it, Taya.  Sooner or later, elo harus balikin dia ke pacarnya yang sah.  Nggak akan mungkin dia rela ninggalin pacarnya buat elo.  Dia sendiri udah menegaskan itu berkali-kali sama elo.   Elo rela selamanya dijadiin selingkuhan?

Oh, dan satu lagi: elo seorang fotografer yang berbakat.  Karya elo pernah dipamerin bareng fotografer-fotografer berkelas di Chicago dan New York.  Kenapa juga elo rela kerja di wedding organizer ecek-ecek begini, yang bahkan nggak menghargai bakat elo?

Tiba-tiba aja gue ngerasa mata dan wajah gue memanas pada saat yang bersamaan.  Gue ngerasa marah sama diri gue sendiri.  Gue nggak hanya ngebuang waktu gue, tapi gue juga ngebuang kesempatan gue untuk meraih mimpi-mimpi gue.  Dan semua itu gue lakuin karena gue terlalu takut untuk sendiri.  Gue udah terlalu terbiasa dengan kehadiran cowok gue.  Gue terlalu takut kalau cowok gue bakal ninggalin gue andaikata gue terlalu sibuk ngejar karir gue — apalagi fotografer itu kerjaannya sangat menyita waktu.  Satu hari bisa hilang gitu aja dihabisin buat pemotretan.  Belum lagi jam kerjanya yang anomali dan nggak teratur.

To love someone so much you live in fear of losing him.

Gila, Taya.  Elo beneran gila.  Selama bertahun-tahun, elo berjuang untuk membuat diri lo diterima dan dihargai.  Kenapa elo rela melemparkan semua itu demi seorang cowok yang bahkan nggak mau jadiin elo prioritas utamanya?

Tiba-tiba aja seluruh tubuh gue gemetar oleh amarah.  Amarah yang gue nggak pernah tahu bisa gue rasakan.  Gue bukan tipe orang yang pemarah.  Dalam hidup gue, bisa dihitung berapa kali gue marah.  Tapi yang membuat gue terkejut bukanlah kekuatan amarah itu, melainkan fakta bahwa amarah itu tertuju pada diri gue sendiri.  Bukan pada cowok gue.  Gue marah karena selama hampir dua tahun gue telah membiarkan diri gue dibutakan oleh insecurities gue sendiri.  So what kalau adek dan temen-temen gue udah mulai move on sama hidup mereka masing-masing?  Kalau memang gue menginginkan sebuah perubahan dalam hidup gue, gue harus melakukan itu dengan kaki-tangan gue sendiri.

Lihat orang asing di hadapan elo ini, Taya.  Dia mau berbaik hati balikin payung elo, padahal dia bahkan nggak kenal elo.  Seharusnya elo bersama cowok seperti dia, bukan bersama seorang cowok yang telah menghabiskan hampir dua tahun tersesat dalam perasaannya sendiri.  Lihat orang asing di hadapan elo ini, Taya.  Dia bahkan nggak kenal sama elo, tapi begitu tahu kalau elo perempuan dan sedang tidak membawa payung di tengah hujan deras seperti ini, dia berbaik hati menghampiri elo supaya elo nggak perlu kehujanan.  Dia menghargai elo, padahal kenal pun tidak.  Kenapa elo buang-buang waktu elo untuk menjadi yang kedua buat cowok elo, sementara di luar sana ada orang asing yang jauh lebih memerhatikan elo?

“T-Taya?”

Heh?

Sontak lamunan panjang gue terputus sewaktu gue mendengar nama gue meluncur dari cowok berwajah Tionghoa di hadapan gue.  Dia mengenakan celana hitam yang disetrika rapi, kemeja biru navy, jas hitam, plus dasi.  Rapi banget.  Mata sipitnya menyipit terkejut dari balik Ray-Ban berbingkai hitam yang dia kenakan.  Gue berusaha menggali-gali ingatan gue, tapi rasanya gue belum pernah bertemu yuppies keren plus smart kayak dia sebelumnya.  Jujur aja, dengan kapasitas otak gue yang setara sama Pentium satu, gue terlalu minder buat deketan sama orang-orang bertampang pintar kayak cowok di hadapan gue ini.  Biasanya temen-temen gue terdiri dari jock boys atau cewek-cewek yang hobi haha-hihi dan nggak terlalu musingin penampilan.

Do I know you?” tanya gue ragu-ragu.

Cowok itu tertawa lebar, memamerkan gigi gingsulnya — yang anehnya malah mengimbangi wajah pintarnya dengan sempurna — membuat ia kelihatan smart tapi juga boyish pada saat yang bersamaan.  “Ya ampun, jelas lah ya seorang Taya Kadhita nggak bakal inget siapa gue.  Dibanding cowok-cowok cakep yang mati-matian berusaha ngerebut perhatiannya, apalah artinya gue,” katanya tanpa nada menyindir sama sekali.  Ia memainkan senyum di sudut bibirnya, kembali menunjukkan lesung pipinya.

Gue mengerutkan kening sambil berusaha memutar otak, mencoba mengingat-ingat siapa gerangan sosok di hadapan gue ini.  Tapi otak gue beneran kosong.  Gue nggak inget apapun tentang ini orang!  Jangan-jangan ni orang operasi plastik, makanya gue nggak inget sama sosoknya sama sekali.  Hmm… ya, hidung itu emang terlalu lurus buat orang Asia.  Bisa jadi —

“Gue beneran nggak inget, maaf ya,” kata gue dengan nada menyesal.  “Sori banget lho.  Kita kenalan dimana, sih?  Di Indo?  Di Melbourne?  Di Frisco?  Di Singapore?”

Senyum hangat di wajah itu masih juga belum hilang. Dengan nada menggoda, dia lalu nerusin omongannya, “Lo inget nggak, dulu waktu kelas dua SMP, temen sebangku lo pernah dikeluarin dari sekolah karena ngegaplok toket guru biologi?”

What the…?  Ngegaplok toket?!

Tiba-tiba gue ngakak.  Hari itu membayang di pelupuk mata gue dengan sangat jelas, seakan-akan kejadiannya baru saja terjadi kemarin.  Waktu itu gue dan teman sebangku gue — dua murid paling bengal di kelas — lagi berusaha nyalin PR matematika pas pelajaran biologi sedang berlangsung.  Karena gue duduk tepat di sebelah jendela, posisi gue lebih menguntungkan sehingga sang guru nggak sempet nangkep gue pas gue lagi nyalin PR.  Teman sebangku gue yang kurang beruntung kena jewer waktu tertangkap lagi nyalin PR.  Tapi dasar bandel, dia dengan lihainya mmenghindar dari jeweran itu.  Si guru yang jengkel kemudian ancang-ancang buat tempeleng dia — maaf, jaman gue SMP guru-guru gue emang suka main kekerasan fisik kayak begini — tapi temen gue yang lihai itu menghalau tempelengan itu dengan tangannya.  Somehow, tanpa sengaja halauan tangannya itu malah mendarat di dada si guru.

“Kamu…!  Dadaku…!” Dengan mata membelalak bak artis sinetron, si guru memegangi dadanya yang kena tabok.  Seisi kelas mengamati drama itu dengan ngeri, termasuk gue.  Dan sebelum temen gue sempat membela diri, sebuah tempelengan keras mendarat di wajahnya hingga hidungnya berdarah.

Gue nggak pernah lagi ketemu dia setelah itu.  Gosipnya sih dia dikeluarin dari sekolah.  Karena dulu belum jaman handphone-handphone-an, gue pun putus kontak sama dia.  Padahal dia itu salah satu teman baik gue di SMP.  Salah satu dari sekian sedikit yang melihat jauh ke dalam diri gue.  Salah satu dari sekian sedikit yang ngerti kenapa gue nggak nyaman ikut beauty pageant dan lomba-lomba model yang memaksa gue untuk jadi orang lain.  Gue inget, momen dimana dia dikeluarin dari sekolah terjadi beberapa minggu sebelum kebiasaan klepto gue muncul.  Gue rasa kehilangan seorang teman baik di saat gue lagi struggle mati-matian supaya diterima apa adanya juga menjadi trigger mengapa akhirnya gue jadi seorang kleptomania.

“Tejas?  Tejas Bakara?” gue melafalkan nama itu dengan hati-hati.  Dulu nama itu selalu ada di bawah nama gue dalam daftar absen.  Gue inget betapa sedihnya gue ketika nama itu tak lagi muncul di bawah nama gue.  Tapi… gila, sejak kapan Tejas si bocah bengal kurus-kering yang kulitnya dekil karena keseringan main sepakbola berubah jadi keren dan percaya diri begini?

Damn.  I can’t help but wonder why God sends Tejas — someone that I haven’t seen for almost 14 years — as my wake up call.

4 thoughts on “[She Says] Episode 7: Wake Up Call

  1. Pembeli pertama, nih? *tengok kanan-kiri*

    Oke, Tayaaaaa!! Akhirnya kamu bangun jugaaaaa, Nak! Muah! Muah! Muah!
    Dan saya juga bisa membayangkan betapa kerennya Tejas secara komplit! Cowok super baik kayak gitu (terlepas dari kasur menyentuh toket) memang sangat pantas untuk Taya.

    Oke, Taya, gak ada rasa takut karena “gak laku” Your Price Charming was Coming! Dia adalah cowok yang bisa menggandengmu ke mana saja, dengan bangga memperkenalkanmu kepada teman-temannya, dan yang paling penting, dia cowok yang bisa menciummu kapan pun kamu mau! GREAT, right!?

    Baiklah, Kakak Ominous! Semangat untuk kelanjutannya! Saya tunggu konflik selanjutnya, hihihihi\:D/

    • Wahahahaa…
      Saya otomatis tersenyum melihat semangat kamu saat ‘melihat’ sosok Tejas. Hehe, sepertinya reaksi teman-teman SMP Tejas yang menyaksikan adegan drama Tejas dan gurunya dulu juga bakal sama seperti kamu :’) berubah banyak si Tejas itu🙂

      Terima kasih ya, jadi ketularan semangat dari kamu, nih!
      Tunggu episode selanjutnya, ya😀

  2. Tejaaaasssss!!!!!

    Akhirnya! Singkirkan cowoq mendua hati ga guna itu!

    Eh, tapi gw agak bingung… si Tejas dan cowoq yg balikin payung itu sama?

    Kalo gitu, dia bukan balikin payung ceweq ga dikenal, tapi karena liat nama Taya dong ya?

    • Haha sepertinya banyak yang kebingungan tentang sosok Tejas dan sosok cowok yang balikin payung, yang sebenarnya adalah orang yang sama. Terima kasih ya, saya coba revisi tulisannya supaya terlihat lebih jelas.

      Nah, inget gak? Taya tulis di payungnya: IN CASE I GOT DRUNK AND LOST THIS UMBRELLA, PLEASE CALL +65-9722-xxxx.

      Dia nggak tulis namanya di payung🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s