[She Says] Episode 6: You Know Who


Gue pernah bilang kan, kalau yang namanya rasa itu bisa tiba-tiba hilang begitu aja?

Memang aneh sih mendengar seorang Taya Kaditha mendadak ngomongin soal perasaan, terutama karena kebanyakan cewek-cewek telah mencap gue sebagai a heartless bitch yang sering memperlakukan cowok dengan seenak hati gue.  Padahal sumpah, gue nggak bermaksud untuk menyiksa ciptaan Tuhan yang satu itu.  Seperti gue bilang, I adore them.  Tapi ya kan nggak mungkin juga kalau semuanya gue pacarin.  Kalau memang kita nggak punya mutual interestsit would be mean if I pretended to like them.  Gue cuma mau negasin aja kalau — meskipun gue jarang banget nangis — gue punya perasaan.  Dan gue pernah punya perasaan yang dalam banget sama cowok gue, sampai gue rela dijadiin selingkuhannya.  Gue bahkan ngerasa bahwa cowok gue punya hati yang mulia karena nggak mau mutusin ceweknya demi ngejar gue .  Gue juga nggak bakal mau dong kalau dia mutusin gue demi cewek lain saat sebetulnya nggak ada yang salah sama hubungan kita.  So, gue pikir usaha dia untuk membatasi kontak fisik kami supaya dia nggak terpengaruh sama nafsu sesaatnya adalah sesuatu yang mulia.

Sampai akhirnya gue bertemu bos gue, si You Know Who.

Bos gue nggak pernah secara blak-blakan ngomong sama gue tentang apapun itu yang berhubungan dengan relationship.  Gue juga nggak pernah cerita sama dia kalau gue ini statusnya selingkuhan cowok gue (gila aja ya kalau ada orang curhat beginian sama bosnya?).  Satu-satunya hal selain pekerjaan yang gue omongin blak-blakan sama bos gue adalah masalah penyakit klepto gue.  Yang tiba-tiba kambuh sewaktu gue denger dari seseorang — sebut saja Bunga (meniru artikel-artikel aneh di detik.com) — kalau cowok gue ini sempet mampir ke Tiffany & Co buat nengok-nengok cincin kawin.

Gue nggak bego, ya.  Meskipun nilai berhitung gue kebakaran, tapi gue nggak bego.  Gue yakin seyakin-yakinnya bahwa cincin kawin itu bukan buat kita.

Di permukaan, gue sih tetep kalem-kalem aja.  Tapi alam bawah sadar gue berkata lain, hence the kleptomania incident.  Kalau aja gue tipe orang yang bisa nangis, mungkin gue bakal nangis abis-abisan sampai akhirnya gue lega.  Sayangnya, gue bukan tipe orang yang seperti itu.  Tahun-tahun yang gue habiskan hidup menjadi siapa yang gue mau membentuk gue menjadi sosok super independen yang tough.  Gue terlalu sibuk stomping around trying to get everything done I have no time to cry. Mungkin karena itulah alam bawah sadar gue akhirnya mencari cara lain untuk menyalurkan kesedihan gue.  Itulah yang terapis gue katakan pada gue waktu sindrom kleptomania ini pertama muncul 13 tahun yang lalu.

Sebetulnya, bos gue nggak pernah melakukan sesuatu yang sifatnya romantis buat gue.  Nggak kayak cowok gue, yang waktu jaman PDKT rela jauh-jauh ke Sentosa Island subuh-subuh cuma buat nganterin gue ngejar photoshoot serta bela-belain keliling nyari apotik yang masih buka jam 2 pagi waktu gue kena dysmenorrhea.  Bos gue itu termasuk tipe orang yang cool plus  unpredictable.  Jenisnya tokoh Rangga di film AADC banget, deh.  Tipe cowok yang dulu-dulu bakal gue bilang tiang listrik, saking lempengnya.  Dan pastinya cowok-cowok serupa tiang listrik gini nggak pernah mengumbar flirting-flirting nggak jelas kayak segudang cowok yang ngaku TTM-an sama gue.  He says what he needs to say.  Tamat.

Aneh kan.  Kok orang kayak begini bisa mengalihkan perhatian gue dari seseorang yang udah bikin gue kena  love-struck tingkat dewa?

Allow me to elaborate.

Segala sesuatunya dimulai beberapa hari setelah cowok gue men-declare physical restriction antara gue dan dia.  Bulan itu adalah bulan Juni, dimana langit Singapura lagi sering galau parah: siang bisa terik kayak Nairobi, malam bisa sedingin Alaska.  Waktu itu gue masih ngantor di kantor gue yang lama, sebuah wedding organizer dimana gue bukan hanya dibayar untuk jadi fotografer tapi juga sebagai sopir, tukang jahit dadakan, tempat curhat yang harus siap sedia 24/7 layaknya mamak stall, tukang bikin kopi, sampai makeup artist dadakan.  Gue udah pengin banget cabut buat jalan-jalan ke Bugis waktu tiba-tiba hujan menimpa Dhoby Ghaut dengan brutalnya.  Karena gue baru aja kehilangan payung gue di MRT untuk kesejuta kalinya, gue cuma bisa mangkel di depan kantor sambil ngobrol ngalor-ngidul sama satpam gedung yang ternyata orang Kebumen.

Seperti yang udah-udah, reaksi si bapak itu pun menunjukkan kalau dia syok berat mengetahui gue punya campuran darah Yogya-Solo.  Dan, seperti yang udah-udah, si bapak pun mengira kalau gue murni Kaukasian.  Apalagi kalau menilik warna rambut gue yang cokelat plus warna bola mata gue yang cokelat-kehijauan.  Gue yakin banget si bapak bisa kena serangan jantung kalau gue terus nyeritain silsilah keluarga gue yang sebetulnya masih keturunan Keraton Solo dan Yogya.  Mana mungkin londo kayak gue berdarah biru?  Yah, demi keselamatan jantung si bapak, gue mingkem aja dengerin kekagetin dia setelah tahu gue ini orang Jawa.  Kebetulan gue ngerti sedikit-sedikit kalau denger orang ngomong bahasa Jawa, jadi gue bisa manggut-manggut dengerin si bapak cerita tentang keluarganya di Kebumen dalam bahasa Jawa.  Tapi dasar gue Jawa murtad, lama kelamaan gue pun lost in translation kayak Scarlet Johansson waktu si bapak mulai berbicara dalam kosakata Jawa yang gue sama sekali nggak punya ide apa artinya.

Pada saat gue udah mulai megap-megap panik saking nggak ngertinya, tiba-tiba ponsel gue berdering.  Nomor yang nggak gue kenal muncul di layar ponsel gue.  Biasanya sih gue paling alergi ngejawab telepon dari nomor yang gue nggak kenal, tapi kali ini gue lega banget melihat nomor asing itu nelepon gue.  Siapapun itu, gue berterima kasih karena udah nelepon gue dan menyelamatkan gue dari percakapan tanpa subtitle dengan si bapak satpam di samping gue.

“Hallo?”

Hey… err… I’m not really sure who you are, but… I found your umbrella a few days ago in the MRT.  It has your number on it, so I decided to call in case you need it.”

Heh…?  Selama beberapa saat, gue cuma bisa melongo kaget.  Waktu gue beli itu payung dari Giordano — gue beli pas hujan, sengaja biar lebih murah — gue sempet nulis pesan pake spidol anti air di permukaannya: IN CASE I GOT DRUNK AND LOST THIS UMBRELLA, PLEASE CALL +65-9722-xxxx.  Sejujurnya gue iseng doang sih, dan gue nggak nyangka aja gitu bakal ada orang yang mau repot-repot ngehubungin seseorang yang dia nggak kenal demi balikin sebuah payung.

Ternyata yang namanya orang baik itu masih ada, ya?

So, gue berterima kasih sama itu orang dan bertanya kapan dia free buat ketemu gue.  Dia bilang sekarang dia lagi freeso gue tanya dimana gue harus nemuin dia.

It’s raining cats and dogs right now.  Do you have another umbrella with you?” 

Nah, the only umbrella I have is with you right now.

Okay, if it’s okay with you, I can come to where you are and hand this umbrella to you.”

Ya ampun!  Ini malaikat baru kepleset dari kahyangan, kah?  Gila, baik bener!  Makin penasaran lah gue sama itu orang.  Jangan bilang ternyata dia bersayap dan berkilau bak malaikat?  Seriously, is he for real?  Saking nggak sabarnya, gue sampai mondar-mandir nggak jelas di lobi kantor gue nungguin itu makhluk berhati emas nongol.  Dan ketika akhirnya dia muncul — dilatarbelakangi sinar matahari senja yang menerobos dari sela-sela awan mendung — gue menemukan diri gue bertanya apakah yang namanya prince charming itu memang beneran masih ada di jaman edan kayak gini.

Dan waktu dia tersenyum tipis ke arah gue, sekonyong-konyong gue bertanya pada diri gue sendiri:

Do you know why it’s so hard to be happy?  Because you find it hard to let go of the things that make you sad.  Udah jelas hubungan elo ini nyakitin elo, tapi lo ngeyel terus buat mempertahankannya.  Hubungan ini layaknya sepatu kekecilan yang tetep lo pakai karena kelihatan bagus di kaki lo.

23 thoughts on “[She Says] Episode 6: You Know Who

  1. Halo, O.
    Akhirnya nih setelah tidak ada postingan baru di Penjaja Kata, eh tukang dongengnya Taya nongol.
    E-eh, tapi tunggu… yang ngebalikin payung itu si boss tiang listrik kah? *dumbfounded*
    Saia membayangkan dia berjas rapi lho, tapi repot-repot mau mengantarkan payung yang hilang? Wuah, beneran manusia berhati emas😀
    Tapi kalau seandainya saia berada di posisi Taya, sure banget bakal berpindah hati dan berpaling ke boss tiang listrik itu. Er, walaupun tiang listrik tapi hatinya emas, mendinglah, masih ada yang bisa didulang /dor.
    Oya, saia suka nih pas kamu menyelipkan fakta soal satpam yang tukang Kebumen itu. Wah, ternyata di Singapur sana banyak yang dari Indonesia ya. Saia kira yang ada biaya aja yang bisa tinggal di sana *baru tau*.

    • Halo juga, A🙂
      Nah lho… siapakah yang ngebalikin payung Taya? Hihi :p
      Oh ya? Saya tidak menyangka bayangan bos Taya itu berjas rapi, lho, di bayanganmu. Terima kasih ya, jadi memberikan saya ide untuk elaborate penampilan si bos kayak apa.

      Haha… kamu bener banget, mendulang hati emas itu harta yang paling tidak bisa tergantikan.

      Oh ya, soal orang Kebumen itu🙂
      Banyak blue collar workers yg datang dari Indo. Dan setiap ketemu, mereka sering bilang mereka bahagia karena pekerjaan mereka lebih dihargai di luar (dalam bentuk gaji dan kesejahteraan) daripada di negara mereka sendiri. Miris, ya?😦

  2. Tok-tok-tok, permisi, saya ingin membayar lunas kata-kata yang sempat saya curi baca beberapa waktu yang lalu dari kisahTaya. Hihihihi, maafkan saya yang baru bisa memberikan beberapa peser kata untuk mengapresiasikan kesenangan saya akan gaya kepenulisan Kakak.

    Dari semua gaya kepenulisan yang saya baca di blog ini, saya sangat menyukai gaya kepenulisan, Kakak. Mungkin itu dikarenakan Kakak menggunakan “gue”. Jarang sekali saya membaca novel, cerpen, atau cerita yang menggunakan “gue” dengan baik seperti yang Kakak lakukan. Semua terasa tepat. Tak ada yang berlebihan, tak ada yang terlalu biasa. Kakak bisa menggunakan diksi selayaknya penjaja-penjaja kata yang lain dengan gaya kepenulisan “gue” yang sangat mudah dimengerti. W-O-W, hanya itu yang bisa saya komentari. Jujur saja, dulu sekali waktu, saya pernah mencoba gaya kepenulisan seperti Kakak. Dan nyatanya, itu bukan gaya yang bisa saya gunakan dengan baik. Jika saya menulis seperti Kakak, rasanya akan sangat rancu dan itu bukan diri saya. Hahahaha.

    Terakhir, untuk ceritanya ya, sama seperti Kak Azura di atas. Saya akan lebih senang kalau Taya berpindah hati dan berpaling ke si Boss. dan lagipula, tipe-tipe tokoh seperti “Tiang Listrik” itu adalah tipe cowok idaman saya. Nyahahaha. Saya suka cowok yang less talk do more, menilik penokohan Taya yang caria dan memerlukan seorang pria baik seperti si Boss, saya rasa mereka akan sangat cocok. Ya, benar, tinggalkan saja pria yang tak memiliki ketegasan seperti itu. Seorang pria harus memiliki ketegasan di dalam dirinya, entah itu dalam memimpin sebuah pekerjaan, cinta, bahkan berkeluarga. Entah mengapa, saya selalu beranggapan kalau pria yang galau memilih dia atau dia adalah pria ‘cacat’.

    Dan, err, kayaknya sudah kepanjangan ya. Apa saya sudah membayar lunas kata-kata yang sudah saya curi baca?

    • Selamat datang! Anggap saja rumah sendiri, ya😉
      Waduh, dipanggil Kakak… saya jadi malu… hahahaa. Terima kasih untuk apresiasi kamu dalam penggunaan gaya bahasa saya, ya. Means a lot, karena sebetulnya saya tidak pernah benar-benar mengira akan ada dampak berbeda dengan penggunaan ‘gue’ dalam cerita saya. Awalnya saya cuma iseng karena ingin membuat cerita Taya ini terasa personal.

      Jangan khawatir, coba-coba saja, nanti pasti ketemu juga gaya bahasa yang kamu banget🙂

      Wah, sepertinya orang yang balikin payung itu benar-benar mencuri hati pembaca, ya? Mari kita lihat apakah dia dan Taya akan memiliki cerita cinta bersama🙂

      • Sebenarnya saya sudah menemukan satu yang enak, entah ini gaya bahasa apa saya pun tidak tahu karena saya hanya menulis begitu saja. Saya pernah mencoba pakai gaya bahasa lo-gue, gaya bahasa terjemahan/chiklit, gaya basa FFkorea, dll. Tapi gak pernah menemukan satu yang cocok, dan tulisan2 yang menggunakan gaya bahasa itu pun akhirnya hanya berakhir di folder proyek dan tak pernah ada kelanjutannya hihihi.

        Saya tunggu kelanjutannya, Kakak!! \>o</ pokoknya harus sama si Boss, oke? *maksa* *lantas ditendang*

    • Hai dicta,

      Numpang komen🙂 saya rasa soal gaya, harus eksperimen? <– masih mencari "suara" yg sempurna jg

      Pernah ada penulis siapa yg bilang, fiction is always experimental.

      Dan iya, pria mendua hati, belah aja jadi dua.

      • Halo, Kakak Gsan! *lambai-lambai*
        Iya, saya juga sedang mencari-cari gaya bahasa apa lagi yang belum pernah di coba… tapi untuk sekarang saya sedang enak dengan gaya bahasa “saya”, hihihi. Mungkin saya lebih bereksperimen dengan dialog-dialognya, “lu-gue” “aku-kamu” “kau-aku” “Anda-saya” (eh, yang terakhir belum pernah nyoba, he) ya itulah, semoga tulisan saya bisa lebih baik lagi. \:D/

  3. Omiii~

    Iya, di benak saya, si bos itu tampan berjas🙂 *high-five sama komen2 di atas*

    Cerita ttg Taya makin lama makin bikin gregetan ya. I. Want. More.

  4. Hai, Omi. You Know Who mengingatkan saya akan penyihir jahat yang tidak boleh disebut namanya di buku sebelah. Well, tapi nama bukan hak cipta, begitu juga dengan judul, jadi saya berusaha menerima persepsi lain selain penyihir tadi. Dan seperti khasnya Omi, judul hanya merepresentasi sebagian kecil isinya, dan sebagian besar unspoken until you finished read. Saya gemes pengen tahu laki-laki berlesung pipi itu.. Kyaaaaaa…. >< *love-struck dengan pria-pria berlesung pipi*

  5. Si gigitbintang baru terbit,
    terlambat dari galaks-galaksi lain yang suda komen.

    Eniwei better late than never.

    Saya suda bacaaaaa tentang Taya
    and I REALLY like your style😉 gaya tulisan kamu jadi sekali mi, (sengaja lancang manggil omi omi biar cepet akrab This little detail makes me LOL-ing. Smart sekali cara nunjukkin personality Taya. Ga pake gaya perkenalan template tulisan biasa.
    The more i read, the more i knew her. Personanya sangat real. *Salut*

    I like this kind of Heroine😉
    Very refreshing.
    Sempurna dalam kecacatannya <- khusus kalimat ini, minjem roh Gaby *Halah*

    Dan tulisan-tulisan nyelekit di belakang cerita really makes a great ending.
    I love it🙂 Really

    • brb pingsan di pelukan dr Tejas…

      thank you so much! *bow down*
      terima kasih ya, pujian dan apresiasi kamu menyebabkan gempa lokal karena saya lompat-lompat kegirangan :D:D:D:D:D:D

      Hihi gapapa panggil Omi aja, yang lain juga manggil begitu kok🙂
      Selamat ya, Taya *nyodok Taya*, tuh lihat di luar sana ada yang kagum akan persona kamu. Makanya cepat move on dong dari status selingkuhanmu! You deserve more!🙂

      Sekali lagi terima kasih ya!
      Tunggu kelanjutannya.

      • “terima kasih ya, pujian dan apresiasi kamu menyebabkan gempa lokal karena saya lompat-lompat kegirangan😀 :D:D:D:D:D” –> LOL!!!!!

        Benar taya… move on nak, move onnnn! Jangan bodooohhh! *eh kok kayanya ada curcol pribadi di sini :”D

    • Hihi, iya… Taya memang menuliskan nomor teleponnya di payung *dasar iseng!
      tapi dia nggak menuliskan namanya kan, di informasi itu?😀

      • Inikah namanya jodoh, oh, inikah jodoh –> Kalau kalian bisa ngebayangin lagu apa ini walau liriknya dirubah..

        Maka mari kita bungkam bersama.
        Cukup tahu sama tahu kalau kita sama-sama lapuk :”D

        *Pasang mars mengheningkan cipta*

  6. Gsan & gigitbintang,
    hihihihi… memang yang ini tricky banget. Gegara satu payung, puyeng. Hahaha… saya tahu lagu itu. Ada Shanty jadi modelnya sebelum dia jadi VJ MTV, dan penyanyinya pakai baju parasut warna-warni. Hahaha😉

  7. “Udah jelas hubungan elo ini nyakitin elo, tapi lo ngeyel terus buat dipertahanin. Kayak sepatu kekecilan yang tetep dipake karena kelihatan bagus.” ditampar lagi lho aku sama ini.

    yang aku suka dari cerita ini selain gaya bahasanya tuh, banyak banget kesamaan kesamaan kecil di hidup aku hahaha, bedanya disini lebih rumit

    meng-amin-kan komen2 diatas, si bos juga aku bayangkan berjas dan tampan seperti Kim JaeJoong di protect the boss, atau Lee Minho di City Hunter

    • Maafkan saya yang tidak update soal dunia Korea *brb Google Lee Minho & KimJaeJoong*😀

      Nah lho, sekali lagi ada yang mengira si pria yang mengantarkan payung itu adalah calon bosnya Taya. Hahaha, maafkan atas jebakan betmen yang saya tebar di entri ini :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s