Fire and Ice


Ada yang berpendapat bahwa bongkahan fudge lebih nikmat ketimbang lumeran krim puree yang meledak dari perut soufflé hangat. Tapi rasanya wejangan itu sama sekali tak berlaku bagi Olivia Gates. Ia rindu rasa dessert manis itu, ketimbang menggigit potongan fudge aprikot dingin ditemani minuman yang tidak padan. Pandangannya terlanjur muram. Menilik baris demi baris dari halaman hulu novel kegemarannya, Last Night at Chateau Marmont—agaknya seperti itulah buku itu bertajuk. Sesekali ia melongok ke samping. Sekadar mengintip kisi jendela yang dibalut tirai fiber plastik. Tidak ada yang berubah. Di bawah naungan tingkap langit, hanya terdapat hamparan tanah gersang, bukannya gedung-gedung pencakar langit ala Sunset Boulevard.

Olivia menghela napas, kembali menyesap ginger tea-nya. Membalik halaman, sembari mengetuk-ngetukkan jemari di pelipir buku. Hatinya boleh saja bermuram durja, bahkan bibirnya tak henti mendumel. Merutuki nasib, mengapa ia dapat terdampar di Connecticut. Menanggapi Mom yang baru saja bercerai dengan Dad, tentu itu bukan urusannya. Namun, alih-alih menetap di kondominium lama, wanita paruh baya itu malah membetotnya untuk menetap bersama.

Krek. Olivia sekonyong-konyong terkesiap, memicing ke arah pintu masuk. Kerainya mengerit, menyerupai ringkingan engsel kurang minyak. Dan seorang pemuda tegap melesak ke dalamnya dengan senyum menjungkit.

Shit,” umpat Olivia. Tentu saja itu bukan petanda baik. Seth Greyfield serta merta melayangkan lambaian sapa.

Sekejap saja gadis itu merunduk; berusaha menyembunyikan rasa jengah di balik lembaran buku, kendati ia tahu, itu ide terdungu lantaran novel Lauren Weisberger yang digenggamnya memiliki panjang tak lebih dari 7 inci hanya sanggup menutupi separuh wajah. Ia memutuskan untuk tak mengacuhkan sapaan itu.

“Olivia?” Seth menghampirinya, menarik kursi rotan di hadapan gadis itu dengan bersemangat.    Olivia Gates berpura-pura apatis. Bibir marunnya masih berkomat-kamit bak merapal mantra; mengeja untaian kata pada rubik ‘terima kasih’ di halaman pemburit.

“Olivia?” Seth separuh bangkit, mencondongan tubuh. Bermaksud mengitip benda yang digenggam Olivia.

“Er? Seth?” Ia gegas menutup novel itu. “Ada yang bisa kubantu?” sambungnya, melirik dongkol. Dalam beretika mungkin ia dapat dianggap tak tahu adab lantaran Seth mendekatinya tanpa maksud buruk. Tapi Olivia kepalang menebar antipati pada Seth Greyfield—tetangga barunya— yang gemar beramah tamah, terlebih mengumbar canda pada Mrs. Gates.

Mom tidak dapat semudah itu memberi umpan pria seksi, hanya agar anak gadisnya pulang ke rumah. Muslihat itu sedemikian terbaca di benak Olivia.

“Aku hanya ingin berbincang denganmu,” tutur Seth, sembari bertelekan kedua siku di atas meja. Kesepuluh jemarinya mengepal, lalu ia menumpukan dagu. “Oya, ingin mencoba menu baru?”

Olivia mendengus geli. “Entahlah, aku sudah memesan terlebih dahulu,” ia mengangkat cangkir itu. Isinya bergolak separuh, hingga ia meneguknya tandas tanpa aba-aba.

I see.” Seth mengangguk.

“Aku tak mengizinkanmu duduk di sana,” sergah Olivia, memasang ekspresi mengusir. “Kau habis menyambangi rumah kami ‘kan?”

“Bisa dibilang begitu.” Pemuda itu tak merasa terganggu dengan tatapan satiris milik tetangga perempuannya, alih-alih beringsut memilih tempat duduk di sanding jukebox.

“Dan Mom menyuruhmu untuk menjemputku?” Alisnya berjingkat. “Katakan padanya, umurku sudah dua puluh tahun dan aku tak perlu pengasuh.”

Pemuda itu hanya terkekeh ringan. Ia mengangkat tangan; memanggil pramusaji.

“Rupanya ada menu baru di tempat ini. Bagaimana dengan petit gateau dan custard, apa kau pernah mencobanya?” Seth seperti tak kehilangan akal. Dada bidangnya masih secadas biasanya; membusung tak menunjukkan bahwa ia salah tingkah. Menyikapi hardikan pedas milik Olivia Gates.

Petit gateau,” ujarnya pada sang pramusaji. “Jadi apakah kau akan menginap di kedai ini sampai malam?” Ia mendekatkan tubuhnya, menumbuk pandang dengan Olivia. Gadis itu agak bergidik. Bukan lataran berandai bahwa ia harus tidur di bawah naungan kanopi terpal, tapi melirik penampilan pria di hadapannya. Jarak mereka terlalu dekat. Ia bahkan dapat menghidu wewangian Armani yang menempel di sekujur tubuh Seth.

“E-er, entahlah. Toh itu bukan urusanmu,” Olivia menggigit fudge aprikot terakhirnya dengan serampangan. Gadis itu jelas tak ingin tertangkap basah lantaran menaruh hati pada sosok tetangga barunya yang sok ramah. Sudah sepatutnya ia menjauhi entitas-entitas yang memiliki kekerabatan dengan diri Mom, ia tak ingin wanita comel itu berbangga diri bahwa dan memenuhi skor 1-0 atas dirinya.

Yeah, aku tahu. Kau membenci Mrs. Gates, tapi bagaimanapun ia tetap ibumu,”  timpal Seth; Olivia mendeliknya dengan sorot ragu. “Aku dapat merasakan yang kau alami. Tapi tidak selamanya menyimpan api itu asyik.”

“Menyimpan api? Hei, aku bahkan tidak bermain petasan.”

Itu bukan kelakar yang pas, tapi bukan juga sumbar yang ingin diungkapkan Olivia. Jauh di dalam lubuk hatinya mungkin ia sudah terlanjur menyembur serapah; siapa Seth Greyfield? Berani-beraninya pemuda itu menyetir ideologinya dalam hitungan detik. Tapi Seth Greyfield berpolah lain. Alih-alih tersenyum culas, ia menudungi jarak pandangnya dengan tatapan teduh.

“Bukan api petasan yang kumaksud. Api itu seperti ada dalam dirimu. Dan kau tahu, bahwa api dan es sama-sama akan menghancurkan.”

Olivia Gates masih membungkam, tak jadi protes. Sementara pucuk lidahnya berkemelut, entah hendak berkomentar apa. Tapi kemungkinan besar Seth Greyfield ada seorang pengagum buku-buku Deepak Chopra—public speaker kegemaran Mom yang amat dicibirnya.

“Aku tak ingin berdebat,” ujar Olivia. “Yang jelas aku tak suka keberadaanmu di sini. Dan ceramahanmu barusan pasti meniru gayanya.”

Seth mengedikkan bahu. Ia masih tersenyum seorang diri, menikmati entakan perkusi  ala Dominic Howard yang mengalun lewat jukebox doyong di sudut ruang. Sampai dentingan pinggan keramik yang terangsur di atas meja menghentikan aksi decakan lidahnya. Olivia mencuri pandang lewat ekor mata, seiring iris lapiz lazuli-nya yang mereka-reka kata di atas lembaran novel.

“Ingin mencoba?” tawar Seth, memotong kue cokelat lingkaran yang bercokol di sisi kiri.

Olivia terdiam. Kepalanya berjengit; Seth menciduk potongan renik itu bersama es krim vanili di sisi kanan. “Kau melihatnya bukan? Ibarat kue cokelat ini dirimu dan es krim inilah yang kumaksud. Es dan api akan menjadi padan jika kau dapat mengimbanginya. Jadi sesekali, mungkin kau harus bersikap agak cuek terhadap Mrs. Gates. Bukan menanggapinya dengan cara melarikan diri.”

Olivia Gates bukanlah seorang lulusan filsafat. Bahkan leksikon itu  pun terasa asing menjamah telinganya, tapi bukannya ia tidak mengerti dengan ucapan Seth. Kata-kata pemuda itu bukan sepenuhnya membual.

“Dan bicara soal keberadaanku. Aku tak mengetahui keberadaanmu di sini, yeah mungkin ini hanya kebetulan, tapi aku selalu mendengar suara gaduh di rumah tetanggaku setiap pagi.”

“Itu karena Mom—”

“—Olivia, kau tak bisa selalu menyangkutpautkan segala hal dengan ibumu. Apakah jika seseorang pria ingin mengajakmu kencan, lalu kau harus mengatasnamakan itu dengan nama Mrs. Gates?”

“Maksudmu?” Pipinya memerah. “Jangan bilang kau—”

“—well, maafkan atas ceramah Deepak Chopra-ku barusan. Sungguh aku bukan orang seperti itu. Aku hanya tertarik dengan sosokmu yang keras kepala.” Ia terkikik geli; menyodorkan seciduk es krim vanili pada gadis di hadapannya.

6 thoughts on “Fire and Ice

  1. Hai, Azura. Ada beberapa catatan disini dan saya tidak akan berbasa-basi lagi, karena ini mungkin akan jadi cukup panjang.

    – terlanjur atau telanjur?
    – penghulu : kl n 1 kepala; ketua: — kampung; — negeri; — kawal; 2 kepala adat; 3 kepala urusan agama Islam di kabupaten atau kota madya; 4 penasihat urusan agama Islam di pengadilan negeri; kadi; (KBBI) ≫ makna mana yang Anda maksudkan untuk kalimat diatas?
    – pergola : n jalan untuk pejalan kaki, di atasnya terdapat para-para untuk tanaman merambat sebagai peneduh yang ditopang oleh deretan tiang di kanan kiri jalan (KBBI) ≫ apakah Anda yakin sudah memilih diksi dengan benar?
    – a la atau ala?
    jika maksud Anda ala dalam bahasa Indonesia, seharusnya tidak dipisah menggunakan spasi. Jika maksud Anda a la dalam bahasa asing, seharusnya dicetak miring.
    – bagian ini :
    Seth Greyfield—tetangga barunya— yang gemar beramah tamah, terlebih mengumbar canda pada Mrs. Gates.
    Apakah memang perasaan saya yang mengatakan kalimat ini belum selesai, atau memang tipikal kalimatnya seperti itu?
    – Kesepuluh jemarinya mengepal ≪ seandainya saya tidak memiliki dasar Anatomi cukup bagus, saya mungkin sudah menganggap manusia ini memiliki sepuluh jari, alih-alih lima, sementara tidak ada keterangan lebih lanjut berapa tangan yang menumpu meja.
    – Seth tak seperti kehilangan akal ≪susunannya terbalik atau otak saya yang lambat mencerna bahwa kalimat ini kurang efektif?
    – ia tak ingin wanita comel itu berbangga diri bahwa dan memenuhi skor 1-0 atas dirinya ≪ comel disini maksudnya apa? Karena (lagi-lagi) menurut KBBI, comel berarti kecil manis (cantik); mungil; bagus. Dan lagi-lagi saya menemukan kalimat yang (sepertinya) belum selesai.

    Well, sebetulnya masih ada beberapa lagi, tapi setelah menilik ulang rasanya komentar kali ini terlampau panjang. *sigh* Koreksi untuk Anda tidak ada salahnya Anda untuk menggunakan tesaurus langka yang mungkin jarang ditemui di beberapa karya sastra, tapi alangkah baiknya jika Anda menggunakan kata-kata itu dengan bijak dan tepat. ‘Mereka’ difungsikan untuk mewakili suatu ‘makna’ bukan? Tentu Anda tidak ingin menggunakan pilihan aksara tersebut hanya karena bentuknya yang indah dengan mengesampingkan esensi itu sendiri. Apapun motivasi Anda, seorang penulis yang baik tentu lebih mengutamakan pesan mereka tersampaikan dengan baik bagi pembaca, alih-alih apresiasi kekayaan kosakata semata. Karena kejadian ini tidak hanya terjadi sekali—saya mengamati ada kali-kali yang lain sebelum ini, dan tidak hanya dari saya—, saya harap Anda mau mencamkan kata-kata saya dengan kepala dingin dan sebaik-baiknya pengertian. Saya tahu Anda berbakat, seandainya Anda mau menggunakannya dengan lebih bijak lagi.

    Love,
    G.A

  2. Saya setuju dengan komentar Miss G.A, terutama di bagian “Apapun motivasi Anda, seorang penulis yang baik tentu lebih mengutamakan pesan mereka tersampaikan dengan baik bagi pembaca, alih-alih apresiasi kekayaan kosakata semata. ”

    Kosakata yang indah, diksi yang tepat dan sesuai dapat menarik perhatian, dan bahkan decak kagum pembaca. Tetapi, lebih baik kalau dapat memastikan bahwa “pesan” dari cerita telah disampaikan dengan tepat.

    But, of course, we’re still learning.
    And I really like the ending, di luar dugaanku.🙂

  3. Walah, Gillian! All hail!!! Hihihihi… maaf, saya terpana melihat kemampuan mengedit Gillian ini *bengong*. Saya sendiri sering ditegur tidak bisa berbahasa Indonesia yang baik, maka dari itu melihat Gillian dengan cekatan mengedit membuat saya terbengong-bengong. Jujur saja, editan Gillian di posting pertama saya banyak membantu saya dalam merampungkan tulisan saya🙂

    Untuk A, saya mulai melihat nih kesamaan tokoh-tokoh perempuan di cerita kamu. Hihi, mereka semua punya amarah yang terpendam, ya? Jadi mengingatkan saya akan diri saya sendiri ketika masih di penghujung usia belasan tahun. Maaf kalau saya terlihat sok tahu, ya. Hanya pengamatan seorang amatir.

    Saya terhibur dengan ending-nya yang tidak biasa. Hoho. Memang kita tidak bisa menebak buku dari sampulnya, ya?😉

  4. Kalau saya, cuma ngga ngerti kalimat ttg novel kesukaannya ihihihi🙂 tapi ceritanya, suka *heart*

    ^ ngga gitu membantu yah?😛

    Tapi ya, saya perhatiin kamu selalu nulis drama keluarga lho. Bahkan di cerita ini, elemen keluarganya terasa sekali.

    Saya merasa kamu cocok menulis cerita2 macam “The Christmas Shoes”, yg menghangatkan hati begitu.

    Jadi senang, masing2 di lapak punya ciri khas masing2. Ditunggu post selanjutnya🙂

  5. Hai-haiii Azuraa😀

    Gigitbintang akhirnya bertandang
    *sapi-sapi menangis haru*
    *petasan meledak*
    *dunia mendadak sincia*

    Pertama-tama… Oh, my, kamu sangat punya kosa kata yang kaya ya :”D really and seriously. Saat saya baca, ada beberapa yang bikin bengong ahahahaha. Saya rasa itu ciri khas🙂

    Leksikon -> astaga ini bukan hal buruk, cuma ini kata yang bikin tercengang ampe nyaris lupa mau baca ending :”D

    Kayanya kalau dalam masalah kaya kosa kata, kamu sama Gsan beneran bisa ditandingin ni. Gimana kalau bikin tulisan bareng isinya chat random penuh kata2 khas kalian, hay makhluk penghuni dunia rumit? *lalu pergi setela lempar bom ide*

    Dan yuppp sangat setuju sama Gaby di komen atas ini *tunjuk*
    Kamu kayanya cocok nulis cerita begitu. Give it a try😉

    ps: Gimana kelanjutan trilogi bintangnya?😀 ahahahaha Gud luck yaaa!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s