[She Says] Episode 5: Dia Yang Namanya Tidak Boleh Disebut


“Masih nggak mau cium gue?”

Sebetulnya gue nggak tahu kenapa gue mau repot-repot mempertanyakan sesuatu yang udah jelas banget jawabannya.  Entahlah.  Mungkin gue berharap kali ini jawaban dia bakal berbeda, mengingat ini adalah hari dimana kebanyakan pasangan ‘normal’ merayakan hari kasih alias Valentine’s Day.  

Yak, emphasize on the ‘normal’ word.  Kenapa?  Karena gue dan cowok gue memang bukan pasangan normal.  Kita nggak bisa dengan bebasnya tampil di muka publik sebagai pasangan.  Yang berarti kita nggak bisa sekedar berpegangan tangan di tempat umum atau memasang status in a relationship with di Facebook.  Well,  bagian nggak bisa pasang status di Facebook itu sebetulnya hanya berlaku untuk gue, mengingat cowok gue selama ini memasang status in a relationship with pacar sahnya.  Gue bahkan harus mati-matian ngontrol ekspresi muka gue setiap nama dia meluncur dari lidah gue karena gue takut akan ada orang yang bisa mencium hubungan kita hanya dari cara gue menyebutkan nama dia.

Malam itu — setelah dia tiba-tiba mengejutkan gue dengan bikinin candlelight dinner di apartemen gue dan ngebawain sebuket bunga lili kesukaan gue — wajar dong kalau harapan gue sedikit melambung.  Gue bisa nerima kalau dia menyembunyikan hubungan kita dengan menghindari kontak fisik di depan umum, tapi kalau lagi berdua begini — di hari Valentina, pula — nggak ada salahnya, kan?

Gue nggak tahu sih seperti apa pikiran cewek-cewek di luar sana terhadap cowok-cowok, tapi menurut gue, opposite sex is the most magical creature that God has created for us ladies and vice versa.  I enjoy exploring the rough texture of their fingers.  I enjoy being hugged by a guy — be it a passionate hug from my lover or a warm hug from my guy friends — and of course I enjoy the intimacy I share with a guy when we kiss.  Terserah lo mau bilang gue boy crazy atau apa.  It’s a fact, and I’m not ashamed to admit it.

Dulu, sebelum kita meresmikan hubungan gelap kita, dia sering cium gue.  Ciuman pertama kita di bar waktu gue ulangtahun masih terus berlanjut hingga akhirnya dia dan gue terikat sebagai pasangan.  Tiba-tiba aja, out of the blue, dia bilang kalau kita perlu bicara.  Itu terjadi kira-kira setelah usia hubungan kita menginjak dua bulan lewat.  Gue udah tahu kalau apapun itu yang dia rasa perlu dibicarain sama gue pasti somehow bakal memberi perubahan pada hubungan kita.  Afterall, ‘we need to talk’ rarely means something good, right?

Malam dimana dia dan gue berencana untuk ngomongin soal hubungan kita itu hujan besar.  Dengan sialnya, payung gue tertinggal di MRT dalam ketergesaan gue untuk melompat keluar dari kereta kapsul yang padat gila itu.  Alhasil gue terpaksa berjalan di bawah siraman hujan selama lima belas menit sebelum akhirnya gue sampai di apartemen gue.  Seperti biasa, housemates-nya menatap gue dengan tatapan terpesona.  Kentara banget kalau mereka iri sama cowok gue karena bisa dapetin perempuan yang menurut masyarakat dinilai lebih dari cantik.  Dan seperti biasa, gue cuma melempar senyum tipis sambil ngucapin terima kasih karena udah dibukain pintu lalu ngacir ke kamar cowok gue.

Feeling gue udah nggak enak waktu dia bahkan nggak beranjak dari meja kerjanya ketika gue muncul.  Gue berusaha nginget-nginget apa aja yang udah terjadi belakangan, mengira-ngira apa yang salah, tapi otak gue kosong.  Gue nggak tahu.  Dan feeling gue semakin hancur sewaktu dia dengan halus menjaga jarak saat gue menengadah untuk mencium dia.

I’m sorry but I can’t kiss you anymore,” katanya lirih.

Di luar, petir menyambar.  Sambaran petir itu terhalang oleh penangkal petir di atas gedung apartemen ini, tapi somehow along the way, perkataan cowok gue itu membuat si penangkal petir berhenti bekerja sehingga gue pun terkena sambaran listrik ribuan volt itu.  Tapi dasar gue ini gila.  Seperti yang udah-udah, setiap kali ada kejadian buruk atau menyedihkan menimpa gue, yang pertama gue lakukan adalah berusaha sebisa mungkin untuk either pura-pura hal itu nggak pernah terjadi atau tidak mengacuhkannya sampai gue lupa.  So, yang selanjutnya gue lakuin untuk nanggapin pernyataan dia adalah memasang senyum lebar dan mencoba mencium dia lagi.  I swear I was only aiming for a little peck, but he pushed me away like I was going to rip off his clothes.

Taya, gue serius,” katanya tegas.  Dia memegang kedua tangan gue dan menatap mata gue lekat-lekat.  Gue berusaha mati-matian untuk menemukan kilatan nakal di mata itu menunggu sampai dia meledak tertawa senang karena berhasil ngegodain gue.  Tapi tatapan matanya itu lurus dan serius,  seperti dua lubang sumur yang kedalamannya nggak bisa gue tebak.

Lalu, dia menambahkan, “I like you so much, Taya.  Tapi gue takut gue jadi nggak bisa berpikir logis if I keep on kissing you… gue takut gue tertutup sama keinginan gue untuk memiliki lo dan ujungnya gue mutusin cewek gue karena itu.  Itu nggak adil buat dia.  Kalau pun kita putus, hal itu harus dikarenakan we can’t work things out anymore.  Bukan karena gue ngejar hasrat gue buat milikin elo.”

“…”

Gue rasa cowok gue pasti bisa ngelihat betapa terpukulnya gue setelah mendengar penjelasannya, karena detik selanjutnya dia menarik gue ke pelukannya.  Otak gue masih kosong, dan gue masih nggak tahu mesti ngejawab apa.  Actually, did I really need to give him some kind of reply?  Did I even have the rights to argue about the decision he made?

“Taya, gue ngelakuin ini untuk kita berdua,” bisiknya halus.  Jari-jarinya membelai rambut gue selagi dia mencari kata-kata yang tepat untuk memperdalam penjelasannya.  “Kalau gue ninggalin cewek gue buat elo, gue yakin suatu hari nanti gue juga bakal ninggalin elo buat perempuan lain.  Gue nggak mau itu terjadi.  I care about you, Taya.  Makanya gue harus menjaga agar logika gue nggak kecampur sama emosi dan nafsu sesaat.  Lo ngerti, kan?”

Sebetulnya, lebih gampang buat gue untuk berpura-pura bahwa percakapan ini nggak pernah terjadi.  Sebetulnya, lebih mudah buat gue untuk ninggalin dia di sana saat itu juga dan mencari penggantinya — yang gue tahu banget sebetulnya nggak akan susah buat gue.  Namun, sesuatu yang aneh terjadi pada diri gue malam itu.  Gue tiba-tiba mendapati diri gue kesulitan untuk membayangkan hari-hari gue tanpa keberadaan dia.  Gue nggak akan bisa berfungsi dengan normal tanpa hubungan nggak normal ini.

Mungkin gue memang betul-betul menaruh rasa sama dia.  Hence the willingness to be his secret lover, and now, the willingness to accept the fact that he won’t kiss me anymore.

Jadi gue pun mengiyakan keputusannya itu.  Dua tahun berlalu, dan dia nggak pernah berusaha untuk mencium gue.  Nggak pernah sekali pun.  Mau di kening, di pipi, apalagi di bibir.  Nggak ada ciuman selamat ulangtahun.  Nggak ada ciuman di saat kita ngerayain anniversary hubungan kita.  Dan sepertinya juga nggak bakal ada ciuman happy-valentine’s-daysayang malam ini.

Tebakan gue benar.

Setelah mendiamkan pertanyaan gue selama lima menit — sampai gue sempat menghidupkan kembali momen dimana dia bilang dia nggak akan pernah cium gue lagi — akhirnya dia menoleh dan tersenyum tipis sambil berkata, “Taya, come on.  You know how difficult this is for me.”

Gue dengan susah payah menelan gengsi gue yang udah luka parah dan menutupinya dengan tawa terpaksa sambil bilang, “Difficult never stops me.”

Sial.  Kenapa sih bukan Nicholas Sparks yang nulisin cerita cinta gue?

9 thoughts on “[She Says] Episode 5: Dia Yang Namanya Tidak Boleh Disebut

  1. If you ever fall in love with two people, choose the second. If you truly love the first one, you won’t fall for the second. (Quote dr seseorang, gw lupa siapa kmrn baca di Twitter)

    Gila, baca ini hati gw panas banget. LOGICAL FALLACY. Logika macam apa itu?!

  2. Halo, O! Saia mampir lagi ya, kembali nih merangsek masuk ke dalam buku hariannya Taya. Kali ini kuyu sekali ceritanya. Saia mengerti nih perasaan si cowok, di mana dia mencintai dua orang dengan timbangan yang sama berat, tapi kalau begini caranya, gak sengaja dia juga menyakiti perasaan Taya dong.

    Sebuah hubungan emang bukan berlandaskan ciuman dan kata-kata mesra sih, tapi kalau gak ada pernak-pernik semacam itu… sama juga hambar. Dan akhirnya, saia memiliki momen untuk mengoreksi *nyengir*

    Tentang kalimat ini:
    Seperti yang udah-udah, setiap kali ada kejadian buruk atau menyedihkan menimpa gue, yang pertama gue lakukan adalah berusaha sebisa mungkin untuk either pura-pura hal itu nggak pernah terjadi atau mengacuhkannya sampai gue lupa.

    Sepertinya kata ‘acuh’ yang dimaksud di sini adalah untuk mengimplikasikan sebuah pengabaian deh (apa banget bahasa gue) /digampar. Tapi sebenernya, ‘acuh’ itu artinya menanggapi. Jadi sebagai alternatif mungkin bisa diubah menjadi ‘tidak mengacuhkan’ atau ‘mengabaikan’.

    Semoga saia gak salah koreksi deh. Dan yang terakhir, saia jadi pengen nonton The Notebook setelah membaca fiksimu (LMFAO), teringat kata Nicholas Sparks di kalimat terakhir.

    Keep writing. Saia akan selalu menyimak diary milik Taya lho.

    • *nangis* Biar gimanapun, ga ada alasan buat ngeduain, dan ceweq harusnya ga mau diduain!

      Aih, kenapa ya, saya emosi banget baca entri diari kali ini… ahahahahahaha *kebawa*

      • hai hai…
        gapapa, itu bagus. lagipula, ini masalah pilihan, sih. semoga tidak ada lagi yang terluka seperti Taya, ya? *peluk jauh*

    • hai, A!
      Wah wah wah benaaaarrr… terima kasih ya untuk koreksi beserta penjelasannya. Hihi! Senangnyaaa…🙂

      Begitulah cerita cinta. Bahkan yang secara fisik sempurna seperti Taya pun bisa terjebak di situasi seperti ini. Itu sih yang pengin banget saya pinpoint disini. Having it all doesn’t guarantee you a lifetime happiness🙂

  3. jadi intinya.

    1. kalo cowo ninggalin cewe buat selingkuhannya, pasti nanti selingkuhannya juga bakal ditinggal buat cewe lain
    2. kalo emang cowo itu sayang sama pacarnya dia gamungkin ngelakuin hal sekeji ini (menyukai orang lain, bahkan mencintai)

    #pengalaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s