Taksi untuk Bunga


Pernahkah memutuskan untuk meninggalkan semua rencana dan rutinitas hidup, hanya untuk sehari saja?

Hari itu, Bunga tergoda untuk meninggalkan segala keribetan urusan bawa-membawa payung dan jaket hoodie; dari pagi matahari bersinar cemerlang, dan toh dia hanya akan berjalan ke perpustakaan kampus yang hanya setengah jam jaraknya untuk menemui sahabat-karib-sejak-kecil-sekaligus-gebetan-sepanjang-masanya… Alden.

“Cinta sejati akhirnya dataaang,” nyanyinya sumbang dan asal sambil memakai T-shirt kesukaannya yang bertuliskan “I’m not perfect but I’m limited edition”. Bunga berpikir Alden pasti sudah menyadari fakta itu, akhirnya, setelah hampir 10 tahun berteman dekat dengannya! Buktinya, Alden mengajak dirinya bertemu berdua saja (bukannya beramai-ramai dengan kelompok mereka seperti biasanya), dan menyuruhnya untuk merahasiakan hal ini…

“Kejutan deh,” begitu kata Alden sewaktu ditanya ada apa.

Helloooo? Sepertinya itu bukan kejutan. Alden tidak pernah punya pacar selama ini, dan semua orang bisa menebak alasannya–dia menunggu waktu yang tepat (dan mungkin keberanian) untuk menyatakan cinta kepada Bunga.

Masih bernyanyi-nyanyi tak jelas, Bunga mengangkat ponselnya yang berdering–panggilan dari Alden.

Alooohaaa…” sapanya penuh semangat.

Olla!” jawab suara bariton di seberang sana, yang lalu dengan berbisik melanjutkan, “Lu udah deket? Pas masuk ati-ati ya, ada si Richi lagi asik chatting sama pacarnya. Jangan sampe keliatan.”

“Beres bos!” jawab Bunga ceria.

Bunga akan melipir melalui kantor FBI bila perlu. Ah, a secret love confession di tempat favoritnya di kampus! Bunga berjalan kaki setengah melayang, jarak perjalanan setengah jam dilaluinya dengan santai.

“Nikmati menit-menit terakhir kejombloanmu,” kata sebuah suara yang terkekeh dalam hatinya.

***

Masih di hari itu, yang tadinya cerah, tapi tiba-tiba hujan deras. Di kompleks kampus di pinggiran kota empat-musim-sehari, Melbourne, setelah patah hati yang pertama.

 

Lesson #1: Cinta dan cuaca Melbourne pada hakekatnya adalah sama–tidak bisa diprediksi dan selalu mencari cara untuk menghancurkan kita!

 

Sial sial sial sial sial sial, pikir Bunga sambil terus berusaha tersenyum, berpamitan pada Alden dan pacarnya. Bukan, bukan Alden, pacarnya… Tapi, Alden DAN pacarnya, pacar pertamanya, yang diperkenalkan kepada Bunga dengan malu-malu. Itulah mengapa Bunga disuruh tutup mulut–geng satu kos mereka punya kebiasaan untuk menjahili pasangan baru habis-habisan.

Gigi Bunga mulai mengeluarkan suara gemeletuk akibat getaran gelombang air mata yang tertahan.

Jangan dulu, Bunga, batinnya, tahan sebentar lagi.

Yang harus dia lakukan hanyalah berbalik, lalu berjalan santai seakan tidak ada bom yang baru saja meledak dalam dirinya. Seakan otaknya tidak baru saja kembali dari liburan sesaat dan mengamuk melihat kekacauan yang dibuat si hati. Rasanya ia ingin memaksa hatinya yang bodoh itu untuk mengambil cuti paksa selama waktu yang tidak ditentukan. Dia salah sangka, melayang, lalu terbanting dengan keras. Sial.

Pandangan mata Bunga mulai kabur, sebagian karena air mata, sebagian karena hujan deras yang tiba-tiba turun saat ia melangkah keluar dari perpustakaan.

Ah, pikirnya nelangsa sambil memandang curahan air itu. Seharusnya dia tidak sepercaya diri itu tadi. Ini Melbourne, tempat di mana cuaca bisa berubah dalam sekejap. Ini kehidupan, tempat di mana segalanya bisa berubah dalam sekejap.

 

Lesson #2: Jangan pernah menyerah pada godaan untuk tidak membawa payung atau jaket hoodie selama berada di Melbourne.

 

Dilema! Tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan keadaan Bunga saat itu.

Masuk untuk berteduh = harus beramah-tamah sama dia-dan-pacarnya-yang-mulai-sekarang-tidak-akan-disebutkan-namanya.

Jalan kaki = kehujanan dan pasti sakit.

Saat Bunga mulai kalut, tiba-tiba di sudut matanya tertangkap bayangan mobil berwarna kuning. Taksi. Di seberang jalan. Penyelamat hidup!

Dengan eye-vision super menyedihkan akibat air mata, hujan, dan tidak memakai kacamata (karena bela-belain make-up supaya terlihat cantik saat menerima pernyataan cinta), Bunga yang saat itu sudah basah kuyup kehujanan karena lari menyeberang jalan langsung membuka pintu depan dan duduk di samping supir taksi.

Hi, sorry I’m soaking wet, but could you please just drive me home anyway? I live just a few blocks from here,” katanya menyerocos kepada supir taksi yang terlihat… tertegun? Sebelum otaknya sempat memproses informasi itu, Bunga bersin.

Masih menangis, ia lalu mengusap-usap matanya, mengusap ingus menggunakan lengan kausnya, dan menyadari maskaranya luntur. Beberapa detik berlalu. Supir taksi itu tetap tidak merespons dan sepertinya malah jadi mengamati Bunga.

Heran, kedinginan, dan benar-benar ingin pulang, Bunga menoleh ke arah supir taksi itu. Dengan pandangan yang sudah lebih jelas, dia menyadari beberapa hal:

1. Supir taksinya super keren, seperti bintang film entah Taiwan / Korea / Jepang / Thailand. (Nationality processor milik Bunga memang jarang sekali bekerja dengan baik.)

2. Tidak ada peralatan taksi normal seperti argo, GPS, dan radio receiver di dalam mobil itu.

3. Interior mobil itu tampak seperti VW Beetle. Bunga tidak pernah melihat VW Beetle dijadikan taksi di Melbourne.

4. Dia basah, kucel, dan baru saja mengelap ingus di lengan kaos favoritnya… yang akan berubah TRANSPARAN kalau basah. Seakan kesialan yang dialaminya hari itu belum cukup, secara kebetulan (naas) dia sedang memakai bra yang sudah berwarna krem-ceplak-ceplok-ungu akibat kelunturan setelah berkali-kali dicuci.

You’re not a taxi driver, are you?” tanya Bunga sambil meringis, mencoba mengusir fakta-fakta meresahkan tadi dari pikirannya.

No, I’m not,” jawab Mr. X dengan kalem.

This is not a taxi, is it?” tanya Bunga lagi dengan bodohnya sambil memeriksa pantulan wajah yang terlihat samar-samar di kaca jendela.

Please, wet-look wet-look wet-look kaya artis di majalah please, batinnya mengiba kepada nasib. Bunga lupa nasib suka kejam–kenyataannya adalah, dia terlihat seperti makhluk bermaskara tebal yang baru saja tercemplung ke dalam got.

Hmm, no, it’s my friend’s car, not a taxi,” jawab Mr. X, menyeringai. Mungkin dia melihat saat Bunga membelalak dan terkesiap kaget melihat bayangannya sendiri di kaca.

“Sial sial sial sial sial sial!” maki Bunga dengan suara pelan.

“Tapi gue orang Indo juga lho, and gue mau koq antar lu pulang. Anggep aja ini taksi kiriman takdir yang baik,” kata  cowok itu sambil cengengesan sebelum mulai men-starter dan menjalankan mobil itu keluar dari area kampus. Giliran Bunga yang bengong mendengar si cowok berbicara fasih dalam bahasa Indonesia.

“Alamat?”

Bunga menggumamkan alamatnya.

Worth it?

“Hmmmm?”

“Siapapun itu yang lu tangisin tadi.”

Bunga diam, tidak menjawab. Layakkah Alden dia tangisi? Layak dong, toh itu cowok yang sudah ditunggunya selama hampir 10 tahun. Sudah sewajarnya, seharusnya, kalau Alden menjadi miliknya. Lalu, detik itu juga, otak yang baru kembali dari liburan itu bekerja.

Tunggu, apakah dia baru saja menggunakan kata “seharusnya”?

Kalau dipikir-pikir, Bunga bahkan sama sekali tidak pernah membayangkan mencium Alden. Pikiran itu… janggal. Jadi, apakah perasaannya benar-benar cinta, atau perasaan bahwa mereka “seharusnya” bersama setelah lama bersahabat karib? Sedikit malu, Bunga mendapati bahwa harga dirinyalah yang lebih terluka dengan kejadian hari itu. Setelah bertahun-tahun berpikir bahwa perasaannya itu “cinta”, di detik itu keraguan mulai terasa dalam hatinya. Apakah itu murni karena otaknya sudah kembali dari liburan? Ataukah ada hubungannya dengan makhluk yang sedang menyetir di sebelahnya itu?

“Menurut gue sih ngga worth it,” kata cowok itu tiba-tiba, membuyarkan lamunan Bunga.

“Kenapa?” Bunga menatapnya dengan pandangan setengah berang karena Alden dianggap tidak layak ditangisi, dan setengah despo menantikan untuk dihibur.

“Yah, gue sih nebaknya lu nangis karena masalah cinta. Terus, lu masih harus mikir sebelum jawab pertanyaan gue, apakah dia layak ditangisin atau ngga…” kata Mr. X, terlihat agak ragu dan risih sebelum melanjutkan, “Kalo udah waktunya, pasti lu dapet yang terbaik. Then you’ll be without doubt that it’s love. Ngga bakal ada keraguan lagi. Kalo jodoh, pasti ngga kemana.”

Dia lalu berdeham, seakan untuk menutupi rasa malu karena sudah berbicara terlalu banyak, atau mungkin karena tidak biasa menghibur. Bunga terdiam, tersentuh akan kebaikan hati pengemudinya yang kalau dipikir sebenarnya hanyalah seorang asing. Hatinya, yang ia sangka sudah berhasil disuruh cuti paksa, mulai berdebar mencurigakan.

Mungkin ga sih, fall in love secepet ini?

“Kita udah sampe,” kata si cowok, lalu menatap Bunga dengan ragu, seperti sedang mempertimbangkan apa yang harus ia katakan selanjutnya. Bunga diam-diam menyesali fakta bahwa rumah kosnya amat sangat dekat dengan kampus.

“Makasih banyak,” kata Bunga sambil merasa bimbang apakah ia harus memulai perkenalan. Mungkin ia harus memakai taktik, seperti ingin mengganti biaya membersihkan kursi yang basah atau apalah… Tapi, Bunga terkenal Pen-ste (Pentium setengah) dalam urusan siasat percintaan. Tak ada taktik apapun yang terlintas di pikirannya, dan dia merasa segan untuk “tembak-langsung”, apalagi sedemikian cepat setelah putus cinta. Bisa-bisa dia dicap sebagai cewek plin-plan yang gampang pindah ke lain hati.

Lunglai, Bunga membuka pintu mobil dan melangkah keluar menuju rumah kosnya. Dia sangat ingin mandi dan makan es krim… tapi anehnya, hasrat untuk mendengarkan lagu sedih sambil menangis meraung-raung sudah hilang entah ke mana.

Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Bunga tidak menyadari bahwa VW Beetle kuning itu terparkir di depan rumahnya cukup lama, bahkan setelah ia masuk dan mengunci pintu.

***

Kota jutaan-lampu-mobil-di-jalanan-macet-dan-banjir, Jakarta, setelah harapan melambung dan patah hati (ringan) untuk yang kesekian kalinya dalam beberapa tahun. Status 1: sarjana, fresh graduate. Status 2: jomblo.

 

Lesson #3: Maybe you’ve got to kiss a thousand frogs before finding your prince. Tapi, rasa kecewa dan eneg yang dirasakan saat tahu kalau kodok itu bukan pangeran… YUCK.

 

“Lu koq ngga bosen-bosennya sih coba jodohin gua? Udah gitu gagal semua lagi, males ah! Maleeess!! Mana hari ini dadakan pula ketemuannya, make-up gua minim dan kaos gua lagi butuuuttt!” kata Bunga penuh emosi kepada Alden dan Lili. (Oke, ternyata mereka bertiga sangat cocok dan tetap berteman dekat.)

“Yang ini bedaaa… Dari awal emang kita pikir lu kayanya bakal cocok sama yang ini. Dia sepupunya Lili and selera lu banget deh! Sebenernya waktu gue kenalin lu ke Lili dulu, dia pas lagi ada di Melbourne untuk urus wisuda, dan kita udah sepakat buat lunch bareng, berempat…” kata Alden, mulai menyerang pertahanan Bunga.

“Bener lho! Eh, lu malah tiba-tiba bilang ga bisa dan dianya juga telat banget ngga sampe-sampe! Ayolah, coba kenalan dulu, Jonathan tuh oke banget lho,” bujuk Lili sambil tersenyum manis, seperti sedang membujuk anak kecil.

Bunga menatap Alden galak, lalu beralih ke Lili.

“Kenapa harus hari ini sih? Kan baru nyampe dari Melbourne! Sengaja ya, biar gue kucel abis semaleman main game di pesawat sama lu pada?”

Yang dibentak hanya cengar-cengir. Entah mengapa, Bunga tidak bisa marah kepada cewek yang pernah dia anggap sebagai perebut sahabatnya itu.

Oh come on, lu oke koq pake kacamata, dicepol, and gue suka kaos kebangsaan lu itu. Kata-katanya lucu. Limited edition! Ini cowok selera humornya tinggi dan aneh kaya lu juga koq, dijamin klop deh,” rayu Lili gencar tanpa gentar.

“Lu ngebujuk atau ngehina gua sih, pake ngomong aneh segala…” kata Bunga, masih sok merajuk, padahal sudah luluh.

***

Beberapa bujukan, gerutuan, dan penyeretan kemudian…

 

“Waktu itu gue sama dia ngga berhasil ketemu, berarti udah ngga jodoh dong. Lagian gue benci biang telat. Mendingan kenalin gua ke waiter  di sini aja, tuh yang kece bener itu yang lagi nemplok di tembok,” cerocos Bunga sebal, karena memang cowok yang dijanjikan itu sudah terlambat lebih dari setengah jam.

“Aduuuhhh, sabar kaliii… Kita emang sengaja suruh dia dateng telat dikit, in-case lu susah dibujuk ehehehehe…”

Sepasang makhluk rese itu lantas berhigh-five ria. Bunga memang kerap jadi bahan bulan-bulanan mereka.

“Hai semuanyaaa, gue ga telat kan?” sapa seseorang yang tiba-tiba duduk di kursi sebelah Bunga, membuatnya melonjak karena kaget setengah mati. Bunga cepat-cepat menoleh. Dia ingat jelas suara dalam yang merdu itu.

Cowok itu! Melbourne! Mr. Taxi Driver! What?! (Kira-kira demikian respons dalam otak Bunga.)

Oknum yang ditatap terlihat bingung sejenak melihat tingkah Bunga, lalu matanya berbinar paham, apalagi setelah melihat kaos yang dipakai Bunga. Dia menahan cengirannya.

“Jonathan, Bunga. Bunga, Jonathan. Tau ngga, gue sempet kira lu kabur! Sebenernya lu suka cewek ga sih? Sampe tobat gue berusaha jodohin lu. Nih gue kenalin high-quality jomblo buat lu, temen gue, makhluk antik tiada tara. Awas lu kalo belagu, nih anak kesayangan kita berdua lho!” kata Lili membuka perkenalan yang tidak biasa itu.

“Oh iya, emang antik tiada tara, apalagi maskaranya,” kata Jonathan, memasang tampang datar sambil menyikut Bunga pelan di bawah permukaan meja. Bunga mendengus sambil menggigit sedotan jus alpukatnya, berusaha menahan tawa.

“Woi, lu lagi nge-hang ya? Kesian kan dia sampe keselek kaget,” tukas Alden sambil geleng-geleng kepala, terkejut.

“Bunga, gue sama Lili udah screening dulu lho. Nih cowok kalo lagi ga error kaya sekarang tuh tipe lu banget deh kepribadiannya, dewasa, selera humor tinggi, rajin…”

“Rajin… nyupir taksi juga ya?” tanya Bunga sepolos mungkin ke arah Jonathan, yang langsung meledak tertawa dan menyodorkan tangan untuk mengajak salaman.

“Bon, Jonathan Bon… Maksudnya, Jonathan Bonifacio,” katanya sambil asal meniru James Bond dan tersenyum iseng.

“Bonifacio?”

“Iya, unik ya? Artinya ‘takdir yang baik’. Nah, kalo lu mau naik taksi ‘takdir yang baik’ lagi, kali ini ga bisa gratis. Gue minta dibayar pake nomor telepon, dll dst dsb…”

Deal!” Lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak, sedangkan Alden dan Lili hanya bisa melongo heran.

“Dua-duanya makhluk gila,” kata mereka takjub. Perjodohan kali ini berhasil.

 

Lesson #4: So, after all, maybe everything DOES happen for a reason. And kalo udah jodoh, pasti ngga ke mana-mana. Kalo udah waktunya, pasti dapet yang terbaik. Then you’ll be without doubt that it’s love.

 

Bunga tak sabar untuk segera membuktikan pernyataan itu.

 

Catatan: Mohon bantu ngedit 300-an kata lagi, supaya ini bisa dikirim ke majalah aaaaaaaa… *jambak rambut*

 

8 thoughts on “Taksi untuk Bunga

  1. “Makasih banyak,” kata Bunga sambil merasa bimbang apakah ia harus memulai perkenalan. Mungkin ia harus memakai taktik, seperti ingin mengganti biaya membersihkan kursi yang basah atau apalah… Tapi, Bunga terkenal Pen-ste (Pentium setengah) dalam urusan siasat percintaan. Tak ada taktik apapun yang terlintas di pikirannya, dan dia merasa segan untuk “tembak-langsung”, apalagi sedemikian cepat setelah putus cinta. Bisa-bisa dia dicap sebagai cewek plin-plan yang gampang pindah ke lain hati.

    Hai, Gsan! Saya merasa ada sedikit kejanggalan di paragraf ini. Mungkin bisa dipotong agar lebih efektif?

    Contoh:

    “Makasih banyak,” kata Bunga. Ia bimbang apakah ia harus memulai perkenalan. Tapi, Bunga terkenal Pen-ste (Pentium setengah) dalam urusan siasat percintaan. Tak ada taktik apapun yang terlintas di pikirannya, dan dia merasa segan untuk “tembak-langsung”, apalagi sedemikian cepat setelah putus cinta. Bisa-bisa dia dicap sebagai cewek plin-plan yang gampang pindah ke lain hati.

    Hehehe… semangat ya! Mungkin pengefektifan kata akan membantu slimming down 300 kata yang kelebihan itu🙂

  2. Halo, Gsan. Maaf ya baru melipir kemari hari ini. Er, buat bantuan ngeditnya, saia bingung nih mau motong yang mana, mungkin bisa mendengarkan saran dari O saja😀

    Yang pasti saia agak kaget lho melihat dirimu menulis dengan gaya chicklit begini, soalnya dari kemarin-kemarin saia disuguhinya cerita yang berbau dongeng dan prosa, tapi yang pasti… ini.. not bad. Asyik juga buat ajang cengar-cengir. Dan taktik cintanya juga lucu-lucu. Cerdik tapi.. kalo dipikir bener juga ding.

    Terakhir, namanya si Jonatahan Bonifacio itu cemerlang abis. Apa bonifacio mirip dengan serendipity ya?

    • Ahahahaha sebenernya saya pengen belajar nulis kaya gini, tapi canggung rasanya. Saya jg nyengir lho di bagian salah masuk mobil yg bra-nya nyetak.

      Bonifacio dan serendipity? Arti Bonifacio itu saya dapat dr buku nama😛

      • Kerasanya pasti begitu kalau mencoba sesuatu hal yang baru, tapi lagi-lagi sebagai penulis memang seharusnya mencoba banyak hal deh, biar akhirnya mempunyai referensi buat milih, mana yang bakal jadi hak paten😀

  3. Gsan! Ah, tulisan favorit saya dari antologi Potpourri, akhirnya nongol disini. Dan akhirnya modem saya berhasil diresusitasi sehingga bisa membaca tulisan ini dengan nyaman tanpa harus memelototi layar empat inci.

    Oke, saya mau bertanya, apakah maskara bisa luntur? Setahu saya, dari kelas make up singkat bersama aunty, yang gampang luntur itu eyeliner (non waterproof tentunya, dan kebanyakan orang lebih suka eyeliner non waterproof karena yang waterproof sulit dihilangkan meski dengan pembersih biasa dan make up remover), kecuali mungkin Bunga pakai maskara yang bukan waterproof selain keluaran MAC, silky girl, maupun Maybelline. #plak *sales kosmetik datang*

    Oke, ngedit 300 kata, ya? That’s too much, nyaris sepanjang flash fiksi, tapi selama saya membaca, saya nggak menemukan kata-kata yang harus dihilangkan selain yang sudah dituliskan Omi. >< *sama sekali nggak membantu* -____________-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s