Malam Lelehan Rembulan


Untuk setiap kisah tak berujung, dan perpisahan tak terucap.

Aku mempunyai sebuah rahasia.

Pernahkah kau mendengar tentang Malam Lelehan Rembulan? Tapi, sebelum aku mulai bercerita, percayakanlah hatimu padaku, sejenak saja. Aku akan mengisinya dengan impian yang sudah lama terlupakan oleh manusia… karena aku masih mengingatnya dengan jelas.

Aku tahu perasaan apa yang harus kutenun untuk mendapatkan jalinan benang tipis sarat kilau yang nyaris  kasat mata, dan aku tahu persis kata-kata yang harus kurangkaikan ke untaian gemerlap itu. Aku pendongeng, aku tahu apa yang kaubutuhkan. Kau butuh harapan dan cinta, maka malam ini hatimu akan mendapatkannya—sebuah kisah cinta. Semoga kau menilainya cukup indah, cukup berharga dan layak untuk terus disimpan setelah kau menerima hatimu kembali nanti. Tapi, untuk sekarang, hatimu adalah milikku.

Tinggalkan duniamu, dan masuklah ke dalam duniaku. Ya, begitu. Pusatkanlah perhatianmu padaku. Bisakah kau mendengarnya? Deburan air bercampur dengan desau angin di antara rerumputan… Selamat datang di tebing rahasiaku. Takkan ada yang mengganggu kita di sini.

Sssttt… Jangan bergerak dulu. Dengarkan dengan seksama. Ini adalah malam istimewa, legenda yang diceritakan secara turun-temurun. Malam Lelehan Rembulan selalu dimulai dalam ketenangan malam yang amat sangat, seperti sekarang.

Bisakah kau melihat rerumpunan ilalang di tepi aliran air di sana? Sebenarnya, makhluk-makhluk tinggi ramping berbadan hijau dan berkepala lonjong itu adalah pemusik terbaik di dunia, dan angin adalah konduktor favorit mereka. Saat ombak beritme dan mereka memutuskan untuk mulai bersimfoni, lihat! Jangkrik-jangkrik pun melompat datang. Pohon-pohon beringsut mendekat, dan semua dedaunan bersiap menari. Semesta bernyanyi, tidakkah kau menyadarinya?

Nyanyian itu sangat indah, karena nyanyian itu tidak berasal dari dunia ini. Nyanyian itu membawa sekecap rasa akan kedamaian dari jauh, yang tak pernah kita kenal…

Bisakah kau rasakan keajaiban yang sedang terjadi? Ribuan bunga tak bernama bermekaran di tanah tempat kita berpijak, membangunkan jutaan kunang-kunang yang tadinya tertidur lelap dalam pelukan kuntumnya, lelah bersinar di tengah semua kegelapan ini. Mereka pun mulai berpendar-pendar, beterbangan, menari, berselancar dibuai angin.

Ini barulah permulaan dari Malam Lelehan Rembulan. Lihatlah langit kelam yang membuka dengan amat perlahan itu! Gerbang Awan memang sudah jarang dibuka akhir-akhir ini, bersabarlah.

Jangan terpana seperti itu, Cintaku. Memangnya apa yang kaukira akan keluar dari Gerbang Awan? Di malam seperti ini, sinar rembulan tidak akan berbias seperti biasanya, tidak pula menetes. Tidak. Di malam seperti ini, cahaya rembulan itu meleleh perlahan, dan melayang turun dengan lembut laksana gumpalan-gumpalan kapas keemasan.

Ketika para Lelehan Rembulan itu akhirnya menjejak Bumi, mereka akan mengambil sosok dengan nama yang sudah kita kenal sebelumnya – malaikat. Ribuan malaikat, semua turun untuk turut bernyanyi bersama ombak, angin, pepohonan, dan kunang-kunang, menjawab ajakan semesta untuk bergabung dalam rentetan nada agung yang akan membuatmu menahan nafas…

Dan tibalah saatnya untukku berbagi rahasia ini – aku harus pergi meninggalkanmu sekarang. Dengarlah, namaku disebut-sebut dalam nyanyian mereka yang indah itu. Ini simfoni untukku. Malam Lelehan Rembulan adalah malam perpisahan… dan hanya inilah kisah cinta yang bisa kutinggalkan di hatimu.

Aku selalu mencintaimu, kau tahu bukan? Bahkan aku sudah mencintaimu sebelum kau sadar bahwa kau mencintaiku… Tapi, waktuku sudah habis. Kau pun sudah harus kembali ke duniamu.

Ini, kukembalikan hatimu. Terima kasih sudah mempercayakannya padaku untuk dipinjam. Aku harap pemiliknya yang sejati akan segera datang untuk mengambil haknya.

Selamat tinggal…

***

Dalam satu kamar di sebuah rumah sakit.

“Selamat tinggal…”

Jantungnya mencelos mendengar kalimat terakhir itu, seakan ada bagian dirinya yang baru saja terenggut. Pria itu memanggil dan menggapai sosok tak berwujud yang adalah gadis pemilik suara itu. Atau, lebih tepatnya, ia mencoba memanggil dan menggapai, karena seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan.

Pria itu terbangun, dan mendapati dirinya di tempat asing. Samar-samar tercium bau disinfektan—ia ada di rumah sakit. Sendirian.

Ingatan pun berkelebatan, menghantamnya bertubi-tubi seiring dengan kesadaran yang hilang-timbul.

Ia yang akhirnya berani mengakui perasaan pada gadis itu.

Cintanya yang bersambut.

Lalu, kecelakaan setelahnya di hari yang sama, hari yang seharusnya menjadi hari jadi mereka berdua.

Detik berikutnya menampilkan seraut wajah, yang terakhir ia lihat sebelum jatuh ke dalam pangkuan kegelapan dan kesunyian… wajah kekasihnya yang bersimbah darah, tanpa kehidupan.

Seketika akal pikirannya memberontak. Tidak. Ini pasti hanya mimpi buruk. Sebentar lagi ia akan terbangun, dan gadis itu akan tertawa riang menertawakan dirinya yang tertidur pada kencan pertama mereka. Ini, hal mengerikan ini, tidak mungkin terjadi. Tidak boleh terjadi. Begitulah pikirnya kalut, setengah berdoa. Ia pun memejamkan mata erat-erat, mempertahankan harapan entah dengan apa. Tapi, alih-alih terbangun dan melihat wajah tertawa sang gadis, imaji yang lagi-lagi datang adalah paras bersimbah darah itu. Sepasang mata itu, yang biasa menatapnya berbinar-binar, kini menatapnya dalam kekosongan yang menghantui.

Ia menolak percaya, tetapi tidak bisa. Bayangan itu terlalu nyata.

Pria itu lantas tersadar penuh, dan mendapati dirinya masih hidup. Ia telah ditinggalkan seorang diri.

Kenyataan itu berdentum keras, menghantam jiwanya tanpa henti. Rasa sakit dari hatinya yang remuk redam menyatu dengan rasa ngilu di sekujur tubuhnya, melipatgandakan penderitaan yang ia rasakan. Pria itu menjerit, nafasnya memburu, matanya berubah nyalang. Namun, tak ada suara yang bisa keluar karena mulut dan tenggorokannya tersumbat oleh selang yang terhubung ke rangkaian alat medis rumit guna menyambung nyawanya.

Ia mengepalkan tangan dengan refleks untuk menahan gelombang rasa sakit itu, dan menyadari bahwa dirinya menggenggam sesuatu… sekuntum bunga, bunga tanpa nama dari Malam Lelehan Rembulan.

Pria itu memejamkan mata, deru napasnya menjadi lebih tenang. Semua jeritan tertahannya menetes keluar dalam airmata yang terasa perih dan sunyi. Dengan sisa kekuatannya, ia lalu memandang ke luar jendela, tepat ketika Gerbang Awan selesai menutup, dan hatinya mengetahui hal ini dengan pasti: sang kekasih sudah sampai di tempat tujuan. Semesta sudah berhenti bernyanyi. Malam Lelehan Rembulan sudah berakhir.

Dan ia pun sadar ia tidak pernah meminjamkan hatinya, ataupun mengambilnya kembali sebelum kata perpisahan itu diucapkan. Hatinya sedari dulu sudah bersama pemilik yang sejati, dan kini bersemayam dalam negeri di balik Gerbang Awan.

11 thoughts on “Malam Lelehan Rembulan

  1. merasa terhormat karena pernah melihat dongeng ini tumbuh dewasa, hingga akhirnya *someday soon, fingers crossed* dia pulang ke rumahnya. Jangan lupa tapi bawa ongkos ya, buat bayar transport pulang ke rumah –> kemudian digampar pake bunga lelehan rembulan

    perubahan emosi yang ekstrim, ya. dari penasaran hingga sedih huhu
    saya suka diksinya juga. selamat datang ke bumi, Malam Lelehan Rembulan!

    • Amin! Semoga rumahnya di Kompas, dan kelak dalam antologi di rak best-seller! *ditimpuk sebelum melayang kelewat jauh*
      Sebenernya, banyak lho cerita orang-orang yang secara ngga sengaja nyampe ke Malam Lelehan Rembulan di Padang Kunang-Kunang (itu nama tempatnya ihihihi)

    • Memang sediiihhh *ikutan mellow* dan terima kasih banyak sudah suka tulisan saya uhuhuhuhuhhuhu… Salam kenal juga, saya akan bahagia kalau anda sering main ke lapak ini. Pasti! Selain prosa seperti ini, sedang menggodok ide ttg satu cerbung. Dukung terus ya🙂

  2. Kalau tidak salah ingat, sepertinya pernah menjumpai MLR di salah satu sudut Potpourri, benarkah? Maaf kalau keliru. Dan bertemu dengannya lagi beberapa jam lalu saat menjadi beta-reader dadakan terasa seperti keberuntungan bisa menyaksikan karya istimewa ini diasah sedemikian rupa membentuk pribadi berbeda namun tetap menyimpan keanggunan yang sama lewat kuntum bunga tanpa nama. Dua kata : luar biasa. Saya suka karya ini, dan Gsan tentu saja, sebagai tutor tidak langsung yang memotivasi saya baik lewat Gadis Penjaja Kata maupun Sekuntum Lili. Saya penggemar nomor satu Anda, bukankah berkali saya mengatakan itu?
    Karya ini sungguh indah dan memotivasi saya untuk semakin berkembang layaknya Lili padang pasir—kecuali bagian tikus mondoknya, tentu saja.

    • Halo, penggemar nomor satu! *belagu minta ditimpuk*

      Ahahaha, kasian banget si tikus mondok koq ga ada fansnya yah, padahal saya suka karakter dia ihihihihi…

      Iya, MLR ini dari Potpourri saya. Dengan level kemampuan saya ini, saya sadar diri dan lebih pilih menyelesaikan satu-satu saja ceritanya🙂 nantikan cerita-cerita lain yang dipoles juga yah…

      Selalu, makasih makasih makasih banyak untuk dukungan dan usul yang selalu anda berikan *peluk*

  3. Halo, Gsan…
    Maaf komennya telat sekali. Saia terpukau banget deh dengan rangkaian katamu. Elok luar biasa😀 seperti prosa-prosa sebelumnya; Setangkai Lili dan Gadis Penjaja Kata. Ini gak kalah indah. Ditambah dengan adanya cerita pendek di penghujung kisah. Mengajak pembaca buat berpikir juga mengenai analogi dan kesinambungan ceritanya.

  4. Cerita ini luar biasa. Indah, membuat saya (lagi-lagi) terpukau sampai kehilangan kata-kata. Anda dianugerahi bakat menulis yang sangat tinggi. Saya salut.

    • Terima kasih *nangis terharu*
      Seneng banget kalo misalnya cerita ini dianggap indah sampe sebegitunya :’)
      Saya berbakat? Amiiiinnnnnnnnn… (tapi kenyataannya, MLR ini sudah saya edit berkali-kali ehehehe) <—- modal utamanya adalah kegigihan *lalu pose sok keren*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s