[She Says] Episode 4: Illuminati


There’s no sense in telling me
The wisdom of a fool won’t set you free
But that’s the way that it goes
And it’s what nobody knows
And every day my confusion grows

Frente — Bizzare Love Triangle

 

Ada satu momen dalam hidup seseorang dimana ia akan merasa bahwa setiap lagu mellow yang pernah diciptakan di dunia ini tercipta untuk dirinya.

Momen itu menghampiri gue ketika gue ulangtahun ke-25, dua tahun lalu.  Dimanakah gue ketika gue berulangtahun ke-25?  Please jangan kaget apalagi ketawa kalau gue kasih tahu.

Kebanyakan orang di usia dua puluh lima tahun sudah mulai memiliki pekerjaan tetap.  Beberapa mungkin sedang dalam proses untuk mengambil program magister.  Sebagian lainnya mungkin malah sudah mulai membentuk keluarga kecil bersama pasangan tercinta.  Gue?  Yah, beda tipis.  Di ulangtahun gue yang ke-25, gue sedang dalam proses menamatkan Bachelor of Arts, nggak punya pekerjaan tetap, dan nggak punya pasangan untuk diajak membentuk keluarga kecil sesuai anjuran Keluarga Berencana yang dicanangkan oleh pemerintah.  Beda tipis aja, kan?

Ijinkan gue buat ketawa sarkastis menertawakan kesialan gue di atas.  Kecantikan fisik memang nggak datang sepaket dengan otak cemerlang dan kemampuan untuk men-spot Mr. Right dari jarak jauh.  Bagian otak nggak cemerlang sih gue nggak bisa ngapa-ngapain ya, selain berusaha sekeras mungkin buat memaksimalkan fungsi setiap sel otak gue.  Tapi bagian nggak bisa mendeteksi kemunculan Mr.Right itu… gue bener-bener nggak tahu mesti ngapain.

Belajar dari teman, terutama yang sesama cewek?  Scratch that.  Gue udah menceraikan hampir semua teman cewek gue sejak SMA.  Bukan karena gue sexist atau apa, tapi karena gue capek ngehadapin banyaknya agenda rahasia cewek-cewek di sekeliling gue.  Be it gossiping, back-stabbing, bad-mouthing, dan seterusnya.  They called me a selfish bitch, but little that they knew, they were the one who created this bitch.

Kacaunya, setelah gue menceraikan teman-teman cewek gue, gue baru sadar kalau ternyata gue payah banget dalam bergaul.  Gue nggak tahu caranya berbaur.  Dulu, sebelum gue mutusin buat jadi diri gue sendiri, nyokap gue yang selalu aktif membuka percakapan dengan orang-orang yang pengin dia kenalin ke gue.  Kalau merhatiin betapa gampang nyokap ngelakuin itu, gue kira pastinya semua orang juga bisa ngelakuin itu.  Gue salah.  Dan menjadi diri gue sendiri pun ternyata nggak segampang yang gue kira  karena gue nggak tahu siapa sebenarnya diri gue.  Hal itulah yang kemudian membuat gue tersesat dalam lingkungan pergaulan di sekeliling gue.  Dengan harapan untuk menemukan siapa diri gue sebenarnya, gue pun mulai bereksperimen dengan berbagai kelompok di sekolah gue.  Mulai dari geng punk, ska, seniman, olahragawan, sampai pernah juga selama beberapa bulan gue nyobain buat berbaur sama geng penggila balapan liar.

Apakah akhirnya perjalanan panjang itu berhasil menghantarkan gue pada penemuan jati diri gue yang sebenarnya?

Kita akan segera kembali dengan jawabannya setelah pariwara berikut.

Aw, tolong jangan gampar gue karena menunda jawabannya!  Sumpah bakal gue jawab, tapi bukan sekarang, karena cerita di atas itu gue gunakan untuk memberi ilustrasi betapa payahnya gue dalam bergaul.  Which then leads to the reason why I’m also terrible at spotting Mr. Right.

Jadi, kembali pada momen ulangtahun gue yang ke-25.  Hari itu dimulai dengan rutinitas gue yang biasa: tertidur di antara tumpukan folio gue yang belum beres.  Sebagai seorang pemimpi sejati, gue pun menekan snooze button agar mimpi gue bisa terus hidup.  Lagian, pikir gue, kan tram ke kampus lewat setiap dua puluh menit sekali.  So dengan damainya gue pun tidur kembali, berbantalkan lensa baby gue yang baru (jangan tanya kenapa bisa begitu).

Ketika gue akhirnya bangun dan selesai melakukan aktivitas melelahkan bernama mandi serta menukar baju tidur dengan baju yang layak dipakai ke kampus, waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat sepuluh.  Kelas gue dimulai jam lima teng.  Dengan hati riang, gue pun mengayunkan kaki ke tempat perhentian tramhanya untuk kemudian menemukan bahwa servis hari ini telah diganti dengan bus darurat yang lewat setiap sejam sekali.

What the?!


“Mati lah gue!” teriak gue sejadi-jadinya, membuat sederetan bule yang tengah menanti bus darurat di dekat gue menoleh dengan tatapan bertanya.  Gue nggak punya waktu untuk nerjemahin teriakan gue itu ke bahasa Inggris, karena gue harus ada di kelas dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.  Kalau nggak, tamat sudah cita-cita gue buat lulus kuliah sebelum umur gue 30 tahun.

Sambil meminta maaf pada dompet gue dalam hati, gue pun melambaikan tangan untuk menyetop taksi kuning yang melintas di depan gue.  Taksi itu menepi, dan gue menghela napas lega.  Sepertinya gue masih bisa mewujudkan cita-cita gue.  Eh tapi… tapi… ini ngapain gerombolan manula depan gue nyerobot taksi gue?  Hello??  Eh, eh, eh, kok gue disikut sama nenek bertongkat ini, sih?  Eh buset, temennya malah nyodok aset gue!  Kalau makin rata sampai gue terpaksa balik pake miniset, apa kata dunia?

Excuse me…!” gue menegur dengan halus, takut disangka kurang ajar kalo neriakkin orang tua.  Eh, sialan… itu manula-manula kok kurang ajar bener sih sama gue?  Mentang-mentang gue anak muda, dengan nggak sopannya teguran halus gue dibalas dengan bantingan pintu.  Dan seakan itu nggak cukup, si manula yang barusan nyodok aset gue dengan santainya membuka jendela lalu melambai ke arah gue.

Sucker!” teriaknya girang.

Dunia ini memang sudah gila.

Saat gue udah lemes kuyu, tiba-tiba sebuah taksi berhenti di hadapan gue.  Jendela belakangnya turun dan seraut wajah pria Asia tersenyum ke arah gue.  Gue nggak ngenalin dia, tapi karena disenyumin, ya gue bales.

“Mau ke kampus, ya?”

Lha, kok tau?  Seakan membaca pikiran gue, dia lalu bilang, “Lupa ya sama gue?”

“Ha?  Emang kita saling kenal, ya?”

Cowok itu tertawa, memamerkan deretan giginya yang kayak biji mentimun.  Cakep juga.  

“Kita kan satu kelas.  Elo Taya, kan?  Elo yang ngajak gue kenalan awal semester kemaren.”

“Oooh…” Masa sih?  Kok kagak inget apa-apa ya gue?

“Yuk, mau bareng?  Tram-nya lagi nggak jalan,” katanya berbaik hati.

Dari berbagi taksi sampai duduk bersebelahan di kelas yang dilanjut dinner di downtown Chinatown, gue akhirnya menemukan kalau gue dan dia punya banyak kesamaan.  Mulai dari selera musik, selera makan (kita sama-sama nggak doyan ceker ayam!),  hobi begadang, sampai hobi ngubek-ngubek opt shop di hari Minggu.  Lima jam lewat begitu saja dan tiba-tiba aja udah hampir tengah malam.  Barulah pada saat itu gue sadar kalau hari ini adalah hari ulangtahun gue.  Keribetan hari ini udah bikin gue lupa sama sekali akan hal itu.  Waktu gue bilang sama dia, dia melongo kaget.  Seketika tequila shot yang ada di tangan dia terlupakan.

“Ya ampun, lo kok baru bilang, sih?” teriaknya, mengatasi keriuhan bar yang terletak di rooftop salah satu pusat perbelanjaan kota metropolitan ini.

“Gue juga baru inget!” balas gue sambil menenggak tequila shot gue.  Gue mengernyit.  Buset, sumpah rasanya nggak enak abis.  “Gue nggak mau minum lagi, ah!” teriak gue.

“Sisanya masih banyak, nih.  Nanggung.”

“Kagak, ah!  Gue udah 25.  Gue mau sober mulai sekarang.  Jatah kavling kosong di surga terbatas, bok!”

“Hahaha… okay, deh.  Terus, elo mau kado apa nih dari gue?”

Gue bisa aja nyalahin tequila shot gue atas apa yang kemudian gue katakan padanya.  Gue bisa aja bilang kalau waktu itu gue terlalu mabok untuk bisa menyadari apa yang gue katakan.  Tapi toh hati kecil gue tetep tahu kalau waktu itu gue sadar dan tahu persis implikasi ucapan gue ke dia.  Jadi buat apa nyari kambing hitam atas tindakan gue?  I did want it.  And I didn’t freakin’ care about other things.  

“Cium gue!”

Dan semenjak ciuman pertama kita itulah, gue mulai merasa bahwa setiap lagu mellow di dunia ini diciptakan buat gue.  Kenapa?  Karena, beberapa minggu setelah ciuman pertama kita itu, dalam keadaan sadar dan rela, gue menerima tawaran dia untuk menjadi selingkuhan dia.  Yup, you heard me.  Dan cinta piramida di antara kami itu pun terus berlangsung hingga dua tahun kemudian, membuat kegiatan mengutuk lagu-lagu mellow itu menjadi ritual sehari-hari gue (maunya sih sambil nangis biar dramatis, but sorry I don’t cry).  Sampai suatu hari, dunia mempertemukan gue dengan seseorang yang kemudian menyadarkan gue bahwa gue harus keluar dari cerita cinta sesat ini.

Bos gue.

13 thoughts on “[She Says] Episode 4: Illuminati

  1. Hai, O.
    Saia sudah menunggu bacaan darimu lho dari kemarin (sempat nagih di twitter sama Gsan).
    Dan… WOW! Frente! in the front, dan ini beneran implikasi cinta segitiga deh. Saia suka banget nih cerita yang ini. Bener-bener balada si Taya dan ternyata beginilah Taya bertemu dengan pacarnya pertamanya, sebelum bertemu dengan boss ganteng.
    Dan, soal Taya yang iri dengan mamanya yang mudah bergaul dengan orang asing, saia rasa… saia juga merasa seperti itu. Sekarang, sudah lulus, tidak bertemu teman lagi, lalu bagaimana nasib saia ya? Entah bakal kesepian seperti Taya juga (eh, malahan curcol).

    • Waduh, saya ditungguin sama A! *terharu dan tersipu-sipu*
      Maaf lama, ditimpuk oleh urusan duniawi kemarin *sigh*

      Makasih, makasih… oh ya, kalau ada kritik atau saran tentang Taya serta ceritanya, jangan ragu-ragu dilemparkan, ya. Maklum, saya masih belajar. Belum pernah bikin cerbung kayak gini sebelumnya.

      Sekarang, setelah lulus, kamu akan bertemu teman baru. Konon katanya teman yang kamu temui waktu kuliah itu bakal jadi teman seumur hidup kamu, lho! Saya udah ngalamin itu sendiri🙂

      • Tentu dong, gini-gini saia secret admirer-nya O lho😀 *tersipu kembali*
        Setia menanyakan kabarmu pada Gsan tiap hari.

        Sip deh. Tapi sejauh ini saia selalu menikmati setiap lembaran balada Taya kok. Kita sama-sama belajar aja, saia juga masih amatiran. Keke.

        Amin deh. Masalahnya, dari kindergarten sama setua ini saia gak pernah pindah sekolah (buka aib), dan akhirnya menginjak bangku kuliah. This is it deh… pertama kalinya saia harus kenalan sama lingkungan baru. Wish me luck😀

  2. Ada satu momen dalam hidup seseorang dimana ia akan merasa bahwa setiap lagu mellow yang pernah diciptakan di dunia ini tercipta untuk dirinya.

    ^ Sa-saya pernah merasakannya juga ahahahahaha…

    Senangnya, tabir misteri (gile bombastis abis) kehidupan Taya mulai tersingkap! Bener-bener kaya lagi ngintip diari atau nguping curhatan orang deh, seru…

    Dan untuk azura, saya ketemu omi (yg skrg hampir tiap hari ngobrol ngalor ngidul), anthea, dan kamu itu setelah lulus lho. *wink*

    Persahabatan yang tak sengaja tercipta, kadang menjadi persahabatan yang terbaik. Seperti kata orang yang namanya terlupakan oleh saya, “There are no strangers here, only friends you haven’t met.” Dan percayalah, di masa depan akan datang orang2 se-spesies yg menerima kamu apa adanya :’)

    • Hahaha, apakah anda lantas berniat menghukum para penyair lagu mellow di muka bumi ini seperti Taya?
      🙂

      Ah benar banget, tuh.

      Apalagi di dunia serba canggih seperti sekarang, ada quote tambahan:
      “There are no beautiful strangers here, only strangers you haven’t Googled yet.” 😀

      • Ahahaha, niat menghukum sih ga ada, tapi cuma berasa diri kaya bintang opera sabun. OH ESMERALDA! <– gila sesaat.

        Itu, statementmu tentang Google… terkesan seperti stalker lho. *takut*

    • LOL. Saia juga bertemu denganmu karena si Gillian dong tentunya, dan rasa keingintahuan saia *digampar*, maklumlah saia ini hobi mem-follow orang terlebih dahulu. Eh, terus ketemu kamu /colek.

  3. Ah, Taya! Jadi orang ketiga itu mengasyikkan, ya? Well, setidaknya itulah yang Marvel ceritakan ke gue, dan gue ceritakan ulang dalam sebentuk fiksi—ofc Marvel and his story are part of my delusional moments. Tapi, tindakan Taya menceraikan teman-teman SMA nya benar-benar terjadi di fase kehidupan pasca kuliah gue dengan alasan yang kurang lebih sama. Sounds so pathetic, isn’t it?

    • Saya rasa itu adalah fase yang normal. Tidak selalu menyenangkan, tapi apa daya memang harus dilalui.

      Wow, intriguing! Wondering who is Marvel🙂

      And yeah, being the third person boost your adrenaline😀

      • Marvel adalah tokoh yang sedang nongkrong manis di rak toko buku dengan teman-teman seperjuangannya berjudul The Coffee Shop Chronicles. Worth to buy! #promosi

  4. Haha! Saya jadi semakin menyukai karakter Taya. She’s one tough bitch. Nice story. Dari semua cerita Taya yang pernah saya baca, bagian ini yang paling saya suka. Mengalir lancar, menarik dan sentuhan humor sarkastis di dalamnya membuat cerita ini juara!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s