[She Says] Episode 3: Orang Utan


Cowok-cowok Singapur itu bikin mata jereng!

There, I’ve said it!  Sori sori sori Jek, tapi memang begitulah kenyataannya.  Udah hampir tiga tahun gue mengais nafkah di Negeri Jereng ini dan satu-satunya cowok cakep (sumpah ini gue nggak bias ngomongnya, tanya aja cewek-cewek lain) yang pernah gue lihat adalah bos gue.  Satu doang!  Dari jutaan manusia yang hidup di Singapur, cuman satu cowok cakep yang pernah gue temui.  Makanya jangan heran kalau elu denger cerita bahwa orang-orang Singapur suka ngimpor istri dari China, Vietnam, Korea, dan sekitarnya.  Ngerti kan kenapa?

Sedangkan gue…

Jujur aja ya, gue sadar kalau gue itu cantik.  Dengan tubuh ramping hasil latihan balet selama lima belas tahun dan bibir merah a la Scarlett Johansson, gue tahu kalau gue itu desired by many men.   Dan jujur aja, terkadang gue memanfaatkan kelebihan fisik gue itu untuk membantu menaikkan taraf kemakmuran gue (tenang aja, caranya halal kok!).  Kagak, gue nggak bermaksud sombong.  Gue cuma mengutarakan fakta aja.

Orang sering bilang kalau dunia ini memperlakukan orang-orang yang tidak beruntung secara fisik dengan kejam.  Well, think again.  Maaf-maaf kata nih, misalkan ada cewek muka standar diputusin sama cowoknya yang notabene-nya jauh lebih ganteng dari dia.  Orang-orang pasti dengan cepat menilai: “Ya pantes aja diputusin.  Keanu Reeves kok jalannya sama mbok-mbok begitu.”  Atau misalkan ada orang kena serobot sama cewek berwajah di bawah standar temperatur kecantikan kala lagi buas-buasnya menjarah midnight sale.  Pasti itu orang dengan spontannya bakal bilang: “Idih, udah jelek, kelakuannya minus pula.”

See…

People expect less from those who are not blessed with physical beauties.  

Sekarang bayangin situasi yang sebaliknya, deh.  Misalnya, apa yang muncul di benak elo waktu gue nyebut nama Dian Sastro?  Cantik?  Berbakat?  Kaya?  Terkenal?  Standarnya, pasti itu yang muncul di benak elo-elo.  Yang secara spontan membayangkan Dian Sastro ditinggal pacarnya demi salah satu personil Trio Macan paling cuma satu persen aja.  Dan si satu persen itu pun bakal dicap sebagai orang yang sirik.  Worse, kalau ternyata si satu persen itu dengan sialnya bertampang standar, dengan entengnya orang akan menambahkan hujutan ekstra: “Ya elah, nggak heran lha dia sirik sama Dian Sastro.  Mukanya aja kayak lukisan abstrak gitu.”

Jadi, gue sebagai orang yang memang dianugerahi dengan kecantikan fisik, mau tidak mau harus menanggung beban dunia yang tidak tercantum saat gue sepakat diberi kecantikan nan rupawan ini: ekspektasi.

Ekspektasi yang paling berat datang dari pihak keluarga.  Semenjak gue menginjak usia remaja, mereka selalu memperlakukan gue layaknya kuda lelang.  Ibu gue, terutama.  Dia nggak pernah alpa mendaftarkan gue mengikuti puluhan kursus untuk menambah ‘daya jual’ gue:  kursus menari, kursus kepribadian, kursus menyanyi, kursus bahasa, kursus masak, kursus etiket, dan masih banyak lagi sederetan kursus kusut yang Ibu ingin gue ikuti.  Jangan lupa juga dengan obsesinya menjadikan gue model sejak usia belia.  Sejak kecil, gue selalu jadi pusat perhatian.  Seperti kata gue tadi, kuda lelang.  Dirias dan dipoles hingga cantik untuk dipertontonkan pada khayalak luas yang kemudian akan pulang ke rumah masing-masing dan berusaha menyulap putri-putri mereka agar bisa terlihat secantik gue.

Bayangkan betapa hancurnya ekspektasi Ibu yang setinggi langit itu saat anaknya ternyata adalah seorang kleptomania.

“Oh, Taya, bayangkan betapa kamu telah menghancurkan hidup yang Ibu impi-impikan untukmu.  Menjadi artis kenamaan, menikahi pria paling kaya di Indonesia, hidup nyaman sampai tua…”  Kira-kira seperti itulah ratapan Ibu ketika mengantar aku menuju konseling kejiwaanku yang pertama.

Saat itu gue bahkan belum genap empat belas tahun.  Dalam hati, gue merasa gagal.  Itulah kali pertama gue menyadari bahwa kecantikan yang gue miliki itu tidak gue miliki secara cuma-cuma.  Ada konsekuensinya.  Kenapa tidak ada yang pernah memberitahu gue sebelumnya?  Detik itu juga, gue menyadari bahwa gue nggak mau diperbudak oleh kecantikan gue.  Gue ingin menjadi pribadi yang utuh.  Gue tidak ingin orang hanya melihat ‘kulit’ gue.  Gue mau jadi sesuatu yang lebih!  Sesuatu yang lebih mendekati siapa yang gue mau ketimbang siapa yang ingin publik lihat dari gue.  Dan semenjak itulah Ibu mulai menilai gue sebagai seorang pemberontak yang tidak punya kerjaan lain selain menghancurkan impian yang telah ia bangun untuk gue sejak gue masih berbentuk gumpalan darah.  Hubungan kami merenggang.

Dan tiba-tiba saja sepulang  sekolah, ada seorang anak perempuan kumal duduk di tangga rumahku sambil memeluk lutut.  Usianya kurang lebih lima tahun lebih muda dari gue.  Ibu berkata bahwa mulai sekarang gue harus memanggilnya ‘adik’.  Agaknya Ibu melampiaskan kegagalannya menjadikan gue seperti yang ia mau pada anak perempuan itu.  Agaknya Ibu sudah lelah meneriaki gue supaya gue mendengarkannya.  Agaknya Ibu sudah berhenti berharap sama gue.

Gue sebetulnya sedikit sakit hati waktu itu karena Ibu sepertinya ingin menggantikan gue dengan anak perempuan ini.  Tapi ya sudahlah, kalau memang itu membuat Ibu bahagia, kenapa tidak?  Lagi pula, di sisi positifnya, omelan Ibu ke gue akan berhenti.

Whoops, gue salah.  Baru saja gue memutar badan untuk berangkat nonton konser ska bareng teman-teman gue yang Ibu benci, tiba-tiba Ibu membuka mulutnya dan berteriak mengomeli gue.

“Dasar bengal ya kamu, Taya!  Udah Ibu omongin kayak gimana pun, kamu masih aja kekeuh berusaha nyakitin Ibu.  Memang pada dasarnya kamu itu sama sekali nggak menghargai Ibu sebagai orang utanmu!”

Gue bengong.  Yang tadinya merasa bersalah, tiba-tiba gue pengin ketawa ngakak.  Kayaknya Ibu juga menyadari kesalahannya karena detik selanjutnya wajah Ibu mulai bersemu merah.  Bibirnya terkatup membentuk sebuah garis lurus, sementara bahu gue mulai berguncang-guncang karena tidak tahan menahan tawa gue lebih lama lagi.

“Hahahaahaa…!”

“…”  Ibu terlalu gengsi untuk mengikuti langkahku.  Mungkin di benaknya sudah terbentuk berbagai jenis omelan yang ia ingin lontarkan setelah mendengar gue tertawa dengan tidak anggunnya, tapi ia terpaksa menahannya karena takut salah ngomong lagi.

Oh, orang utan… orang utan…

8 thoughts on “[She Says] Episode 3: Orang Utan

  1. Eh, O… nongol lagi. Tiap malem lagi banyak intuisi ya?
    Senang sekali menjumpai tulisanmu di sini. Dari judulnya, aduh… lagi-lagi saia tidak menyangka kalau ini obrolan malamnya Taya. Malah awalnya saia kira, ini bakal bercerita tentang konservasi orang utan di Kalimantan (digampar). Eh, tapi beneran konyol deh si Ibu.
    Orang tua jaman sekarang memang begitu, poles-poles anak lantaran pengen membanggakan sang dara di depan teman-teman arisannya. Anaknya kan kasian itu, punya hati tapi malah gak bisa berkicau. Untung Taya berbeda.
    Membaca tulisanmu rasanya asyik sekali lho, tadi pagi saia lapor ke gsan, kalo saia seneng sekaligus penasaran sama yang empunya karakter Taya. LOL.
    Cerita yang selalu penuh celotehan orang kota namun bermakna. Love it.

  2. Hai hai…

    Banyak intuisi? Sebetulnya banyak nguping orang di Mass Rapid Transit jadi beginilah, hihi🙂

    Nguping obrolan beberapa wanita yang sebenarnya sudah cantik tapi masih ingin merubah ini-itu karena paksaan lingkungan yang telah dengan kejamnya membakukan standar cantik, jadi terinspirasi hehe.

    Menarik memang kehidupan para young urban ini. Kalau tidak sempat menertawakan diri sendiri di antara hectic-nya perputaran dunia, sayang sekali… hanya tersisa penat tanpa pelajaran apa-apa. Aduh, kok saya terkesan menggurui?

    Yah, kira-kira begitulah😀

  3. Saat itugue bahkan belum genap empat belas tahun. <— itu dan gue kurang spasi

    Worse, kalau ternyata si satu persen itu dengan sialnya bertampang standar, dengan entengnya orang akan menambahkan hujutan ekstra: <— maksudnya hujatan?

    Ih, koq gw jadi kaya spellchecker ya? *nangis* maafkan aku! Lalu, buat gw, selama membaca agak bingung sama campuran penggunaan kata tidak dan nggak, tapi mungkin cuma gw doang ya…

    Sisi lainnya, gw ngga nyangka kalo si orang utan itu ibunya. Ngakak. Gw jadi inget pageant yang pesertanya anak2 kecil, didandanin menor dan diajarin nari dll, lalu dilombain. Babies and Tiaras ya judulnya? Menurut gw itu GILA. GILA.

  4. Tara, Tara, gue suka gaya lo! hahaha..
    Menikmati alur curhatan si Tara ini rasanya seperti sedang ngaca. Well, beberapa bagian dari kehidupan Tara sempat saya alami juga, meski tidak sama persis. Twist-nya luar biasa bikin ngakak, membayangkan ibu saya di posisi ibu Taya. Well, terima kasih sudah membawa beberapa keping kenangan tentang orang rumah..🙂

  5. Awal membaca judul, langsung teringat Partikel-nya Dee untuk sekejap. Haha. Dan, lagi-lagi cerita mengenai Taya ini membuka satu pertanyaan yang hadir dari membaca cerita sebelumnya. Ternyata si klepto itu memang Taya. Ck ck.

    Cerita ini menarik karena diperlihatkan bahwa orang-orang yang diberi anugerah kelebihan fisik ternyata juga sering merasa tertekan. Berbeda sekali dengan pendapat orang banyakan yang sering mengatakan, “Orang cantik mah hidupnya pasti bahagia.” Haha. Hubungan Taya dengan ibunya sungguh disayangkan, tapi saya bisa paham. Saya pun tidak akan tahan memiliki ibu yang menganggap anaknya sebagai kuda lelang.

    Endingnya mengejutkan. Twist humor dari curhatan Taya. Benar-benar menyegarkan. Good work.🙂

    • Amariys,
      sebelumnya terima kasih, dan selamat karena telah mendapatkan jawaban yang kamu cari!🙂

      Ditunggu posting dari kamu, ya!
      Hehe, ternyata orang cantik pun manusia, ya? Punya rasa, punya hati –> lho jadi nyanyi?

  6. wah jadi si Taya ini sih mirip sama temen aku yang dijadiin kuda lelang sama orangtuanya hahaha. padahal dia rapuh banget dibelakang orang2

    btw, bener kan. semua Taya series endingnya selalu melenceng dari bayanganku. :p

    • Stay strong ya buat teman kamu🙂
      Semoga suatu hari nanti, warna asli dia bisa bersinar seterang sinarnya Taya

      Terima kasih ya udah menyimak curhatan Taya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s