[She Says] Episode 2: Klepto


Oke.  Mau tau kenapa seorang Taya Kaditha yang ngakunya nggak dengerin lagu-lagu lain selain lagu-lagu yang lahir sebelum Backstreet Boys meluncurkan album serba perak-silver a la Panji Manusia Millenium itu (walau jujur sih, Nick Carter itu yummy juga ya buat dijadiin guilty pleasure) tiba-tiba kecanduan lagu Afgan?  Tepatnya, lagu Afgan yang judulnya Dia Dia Dia?

Dia dia dia cinta yang ku tunggu tunggu tunggu
Dia dia dia lengkapi hidupku
Dia dia dia cinta yang ‘kan mampu mampu mampu
Menemaniku mewarnai hidupku

Duu… duu… duu…

Karena gue naksir bos gue yang mirip sama Afgan dicampur sama Andrew Garfield.  Nggak adil ya ngebandingin Andrew Garfield sama Afgan?  Ya tapi dunia ini kan nggak selalu adil.  Singkatnya, bos gue itu mirip Andrew Garfield dikacamatain dan dikasih suara nge-bass jazzy jazzy kaya Afgan.  Doi juga yang memperkenalkan gue sama idola masa kini bernama Afgan itu.   Selain tampan, nilai lebihnya adalah doi nggak suka minum darah atau berkilau setiap terkena matahari.  Whoops… maaf yak, semenjak kegilaan tentang segala sesuatu yang berbau vampir menyerang dunia entertainment, otak gue secara refleks menghubungkan kata tampan dengan vampir.  Go blame Edward Cullen for that.

Tapi, setiap manusia itu tidak diciptakan sempurna.  Termasuk bos gue.  Walaupun ganteng dan bukan vampir, dia punya selera musik yang nggak bisa dimaafkan oleh telinga gue.  Oke, gue masih bisa terima kalau doi dengerin lagu-lagu pop kayak Afgan dan Justin Bieber, tapi ternyata doi juga gandrung banget dengerin lagu-lagu melayu menye-menye macam ST12, Kangen Band, dan entahlah siapa lagi namanya.  Harusnya hal seperti itu bikin gue il-fil yak?  Tapi dasar cinta itu buta.  Selera musiknya yang mengerikan itu pun nggak berhasil bikin pesonanya di mata gue luntur.

Hmm… mungkin itu karena bos gue juga berjasa dalam menyelamatkan karier gue setelah gue tertangkap melakukan perbuatan tidak senonoh.  Ih, jangan langsung ngeres gitu, dong!  Yang gue maksud perbuatan tidak senonoh itu bukan video panas gue dengan salah satu anggota DPR, kok!  Perbuatan tidak senonoh ini adalah sesuatu yang gue lakukan secara tidak sadar.  Sesuatu yang gue kira udah sembuh setelah nyokap gue ngirim gue ke terapi waktu gue masih SMP dulu.  Ternyata oh ternyata, karena sebuah event yang terjadi belakangan ini, perbuatan tidak senonoh itu pun kembali gue lakukan.

Singkat cerita, belakangan ini ada kejadian yang menghebohkan di kantor gue.  Teman-teman sekantor gue mulai sering mengeluh kehilangan barang.  Mulai dari yang kecil-kecil kayak stabilo, pulpen, penjepit kertas, ikat rambut, bando, sepatu, iPod, sampai puncaknya ada yang kehilangan smart phone mereka.  Anehnya, semua barang yang dicuri ini warnanya biru.  Waktu bos gue ngeluh sama gue kalau doi kehilangan tas laptop-nya pas kita lagi makan berdua di Old Town Kopitiam, gue polos aja gitu nyeletuk:

“Jadi barang-barang yang hilang itu semuanya warna biru?  Gila, itu pencuri kayak satin bowerbirds, ya?”

Bos gue itu mengerutkan kening.  Seperti biasa, udara kejam Singapur yang humid gila itu mulai membuatnya berkeringat.  Sama seperti gue, bos gue juga bukan fans beratnya udara Singapur.  “Saya nggak kepikiran sampai situ, sih.”

Adakah pria berusia twenty-something di Indonesia yang menyebut dirinya dengan ‘saya’ seperti dia?  Lagi-lagi, cinta membuat gue tersepona akan cara dia menyebut dirinya itu.

“Itu juga gue dikasih tau sama psikolog gitu.  Dulu, di sekolah gue juga pernah ada kasus kayak begitu.  Terus psikolog gue bilang kalau si pelaku itu punya kebiasaan mirip satin bowerbirds, yang…” Tiba-tiba gue keselek kaya toast gue.  Tangan gue otomatis naik menutupi mulut gue yang embernya nggak kira-kira itu.  Aduh, Taya, elo kok bisa setolol itu, sih?

Bos gue menatap gue lurus-lurus.  Tidak ada perubahan pada ekspresi di wajah gantengnya itu.  Dan selama beberapa menit, tak satu pun dari kami mengeluarkan suara.  Hal itu hanya bikin gue semakin merasa takut dan salah tingkah.  Entah apa yang akan terjadi pada gue.  Entah apa yang dipikirkan oleh bos gue itu tentang gue.  Yang pasti, bukan hanya kesempatan PDKT gue yang melayang, tapi juga karier gue yang gue bangun susah-payah setelah gue menghabiskan hampir tujuh tahun untuk lulus dari program S1 gue.

Karena gerah didiamkan seperti itu, akhirnya gue memberanikan diri untuk membuka mulut.  “Am I fired?” Suara gue melengking di akhir perkataan gue, seperti yang selalu terjadi setiap kali gue takut atau panik.  Sesuatu yang anehnya dianggap sangat lucu dan imut oleh seorang pemuda yang mati-matian menolak untuk mengakhiri hubungannya dengan gue.

Bos gue tersenyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.  “What makes you think I’m gonna do that?”

Well...”

“Saya memang bukan ahli kejiwaan, tapi kalau hal seperti itu terulang, mungkin ada sesuatu yang men-trigger-nya,” kata dia bijak.  “Kalau boleh saya menyarankan, mungkin… kamu bisa meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan seseorang yang kamu percaya bisa membantu kamu dengan masalah ini.  Dan jangan ragu-ragu kalau kamu butuh bantuan.  Saya siap membantu.”

Kalian mungkin menganggap gue gila.  Pacar gue jelas-jelas tergila-gila sama gue, dan gue malah berusaha meninggalkan dia untuk bos gue yang gue bahkan nggak tahu apa yang dia rasakan terhadap seorang klepto seperti gue.  Gue menghela napas panjang.  Taksi yang gue tumpangi berbelok menuju jalan dekat apartemen gue.  Lewat jendela taksi, gue memandangi jalanan Singapur yang malam itu sepi karena hujan tengah turun dengan derasnya.  Radio taksi yang disetel oleh sang sopir memutarkan lagu lama dari Maroon 5, Nothing Lasts Forever.

It is so easy to see

Dysfunction between you and me

We must free up these tired souls
Before the sadness kills us both

I tried and tried to let you know
I love you but I’m letting go
It may not last but I don’t know
Just don’t know

There goes the answer that I’m looking for.  Sometimes… the feeling just went away.  Mungkin seorang klepto diam-diam menyelinap dan mencuri perasaan itu darimu.  Kau tidak bisa bertanya kenapa seorang klepto melakukannya.  Kalau dia tahu kenapa dia mencuri, dia bukan lagi seorang klepto, melainkan seorang pencuri.

10 thoughts on “[She Says] Episode 2: Klepto

  1. Halo, O…
    Er, kali ini bercerita tentang Taya Kaditha ya. Dia seorang kleptomania kah? Fakta yang asing tapi terdengar menarik kalau dirimu yang menceritakannya. Saia suka sekali mendengarkan lagu, terlebih zaman-zaman uzur seperti zamannya BSB dan rambut Nick Carter yang dipiak tengah itu😀

    Si Taya Kaditha sepertinya orang yang menarik deh. Selain pacarnya yang hobi merokok itu, dia naksir berat sama boss-nya toh.

  2. Hai…
    Sebetulnya dari awal memang bercerita tentang Taya, sih. Maksudnya pengin bikin cerbung yang juga bisa berdiri sendiri setiap entry-nya sebagai cerpen *ngekhayal, hahaha*

    Kleptomania atau bukankah Taya? Hihi, tunggu episode selanjutnya🙂

  3. Ternyata oh ternyata, karena sebuah event yang terjadi belakangan ini, perbuatan senonoh itu pun kembali gue lakukan. <— apakah ini typo dan maksudnya TIDAK senonoh?

    Ah, kali ini tentang perasaan yang tercuri? Kaya baca diarinya Taya yah🙂 unik…

  4. Sudah baca dari kemarin tapi baru sempat mampir sekarang. Well, fakta yang cukup unik terungkap lagi dari seorang T. Kaditha. Dan awalnya saya kurang mengerti kesinambungan antara Klepto dan lagu Afgan, kemudian saya menyadari keduanya menyangkut seorang yang sama, si bos, setelah membaca beberapa kali. Well, permainan logika yang menarik, Omi..😀

  5. Oh, cerita tentang si Taya ini cerbung, toh. Pantesan yang awalnya terasa sangat menggantung. Wah, nggak nyangka banget kalau Taya ini punya kebiasaan klepto. Jarang ada tokoh yang memiliki kekurangan separah ini. Tapi saya masih kurang mengerti bagian ini:

    “Itu juga gue dikasih tau sama psikolog gitu. Dulu, di sekolah gue juga pernah ada kasus kayak begitu. Terus psikolog gue bilang kalau si pelaku itu punya kebiasaan mirip satin bowerbirds, yang…” Tiba-tiba gue keselek kaya toast gue. Tangan gue otomatis naik menutupi mulut gue yang embernya nggak kira-kira itu. Aduh, Taya, elo kok bisa setolol itu, sih?

    Karena bagian ini terasa ambigu. Taya seperti keceplosan ngomong dan seolah mengesankan bahwa dia adalah pelakunya, tapi dari kata-kata di dalam dialog, tidak ada indikasi ataupun satupun kalimat di mana Taya benar-benar mengaku secara implisit bahwa dia adalah seorang klepto. Saya malah jadi berpikir kalau Taya tahu siapa pelaku sebenarnya, tapi hanya diam saja. Secara hukum, bisa dibilang Taya termasuk accessory compliance dari si Klepto ini, yang berarti dia sama bersalahnya dengan si pelaku sendiri. Karena itulah dia takut dipecat.

    Tapi, yah, itu hanya dugaan saya. Semoga di bagian selanjutnya akan terungkap siapa pelaku klepto itu sebenarnya.

    • Amariys…
      Maaf ya saya jawabnya lama. Hehe, sepertinya teka-teki dan pertanyaan-pertanyaan kamu mulai terjawab seiring dengan setiap pos baru tentang Taya. Stay tuned, ya! 🙂

      Saya senang atas kritikan dan sarannya. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s