Frappy, Jimmy, Epiphany


Tanda epsilon itu tak kunjung lesap dari setengah jam lalu. Bibirku mengerucut, masih bertelekan siku di sebuah bench kayu. “Jims, ini ide yang buruk,” sentakku, menerawang ke arah samping. Jimmy Howard tengah berasyik masyuk, menggauli manekin superhero-nya. “Hei, Jims!” pekikku, melirik dengan tatapan sinis.

Oh my, kau tidak begitu pintar soal fisika ya, Jenna?” ia serta merta merampas onggokan kertas itu dari tanganku.

Aku mendengus. “Dasar bocah tak tahu sopan santun,” semburku, mengetuk-ngetuk pensil di pelipir bangku. Lagi-lagi tak mengacuhkan berungutanku, kesepuluh jemarinya saja tertekuk tak keruan, memainkan boneka action figure dalam genggaman. Hawk Eye? Kurasa, begitu caranya melabeli boneka satu itu di antara pajangan rumah.

“Aku kan hanya meminta bantuan. Dan kukira, kau dapat diandalkan, bukankah itu pelajaran kelas menengah?” sanggahnya, setelah mencuri dengar umpatanku.

“Tentu saja,” aku meringis separuh.

“Lalu, mengapa kau tak dapat membantuku menemukan jawaban persamaan GGL itu?”

Well, ini bukan gagasan yang keren. “Siapa bilang aku tak bisa? Er, mungkin aku tidak mujur untuk tugas yang satu itu.” Bahuku mengedik, bersiap diri untuk menggelontori tangan.

“Terserah katamu. Biar saja kukatakan pada mom kalau menghabiskan pekan di kondominiummu begitu membosankan.”

Itu adalah topik terburuk sepanjang sejarah. Sama halnya dengan tanda epsilon itu, otakku kepalang kopong untuk membantah. “Look, Jims. Aku akui, nilai akademikku memang payah, tapi please, jangan adukan lelucon semacam itu pada Candace.”

Candace tak menggajiku selama seminggu sebagai santunan menjaga bayi raksasanya, alih-alih ia menjanjikan tiket konser Smashing Pumpkins di malam tahun baru. Itu terdengar bergengsi, dan memang sepadan, lantaran semua pialang tiket sudah menggantung plaket sold out pada loket mereka.

“Itu bisa diatur, Jenna… asalkan kau membantuku,” bibirnya tertarik dan sejurus saja aku pun tahu bahwa manik lapiz lazuli-nya menghunjuk ke arah gerobak frappy di pojok taman.

Smashing Pumpkins memang secara tidak langsung merampok isi dompetku, sementara si Jims-sok-elegan itu meniup-niup tangannya tak sabar. “Ini,” ujarku, memberikan lembaran sepuluh dollar dan koin-koin penny. “Jangan beli yang terlalu mahal,” tambahku. Entah ia mendengar atau tidak, tubuh pendek itu raib di balik tiang lampu.

Jims dan memorandumku memang terdengar tak ubahnya lelucon akbar. Coba tebak, siapa sangka jika akhirnya Jenna Penrose sepakat untuk mengurung diri bersama seorang pelajar akselerasi sinting yang kerap membicarakan deret aritmetika di meja makan, hanya untuk selembar tiket konser Billy Corgan dan tim sirkusnya.

Sorry, apakah tempat duduk ini kosong?” sekonyong-konyong sebuah suara bariton menyambarku dari belakang.

“Er,” aku membenahi posisi duduk, alih-alih meniliknya dengan tatapan ramah.

“Jenna kan?” tanyanya. Okay, aku tak begitu asing dengan nada itu. Dan benar saja, Jake Lewis duduk di sampingku dengan tubuh atletisnya berwewangian Jean Patou.

Ekor bibirku berjinjit separuh, entah itu menyinggungkan senyum ‘sial sekali diriku’ atau justru menyapanya dengan ekspresi supel. Jake menekur, lalu terduduk santai di sampingku. “Bagaimana kabarmu, Jen?” tanyanya, menyesap crème caramel beraroma theine.

“Baik,” ujarku. “Kapan kau pulang ke Frisco? Kukira kau sedang ada pemotretan di Milan.”

“Kau mengikuti kabar press tentang diriku ya?”

Well, aku membaca surat kabar,” ringisku, salah tingkah. Berani bersumpah, itu obrolan teraneh yang pernah kualami, tatkala aku merindukan saat-saat dulu kala kami bertukar senda semasa di bangku sekolah.

“Kau gugup berbincang denganku? Santai sajalah, aku kan masih berstatus sahabatmu.”

Kurasa, ia perlu menekankan kata ‘dulu’ di pemburit kalimat. “Tidak juga. Hanya saja, aku takut kau akan terkait masalah jika tertangkap paparazzi,” kilahku jengah.

Jake terkekeh. “Kau menakutkan paparazzi atau skandalku dengan Penny Throne?”

Bahuku mengedik acuh tak acuh, kendati di dalam hati menciut; merutuki pertemuan kami. Memang aku kepalang rindu berjumpa dengan Jake di reuni mini ini, tapi tidak untuk menyinggung pernyataan cintaku di masa lalu.

“Aku telah putus dengannya di Milan,” bebernya tak memberikan alasan jelas.

“Aku turut menyesal mengenai itu, tapi kurasa ia jodohmu lho.”

“Apakah benar?” ia tak begitu mengikuti arah bicaraku, manik kelabu itu seolah menyisir satu per satu helai daun yang beronggok di tepi jalan.

“Tentu saja, dia kan—”

“—lalu, bagaimana denganmu?” potongnya dengan alis berjengit.

Aku terkesiap. Itu pertanyaan yang mengagetkan, lantaran ia hendak menyingkap kembali kisah romansaku setelah pernyataan cinta picis yang ditolaknya kala tingkat tiga.

“Er, aku sudah berkeluarga. Sayangnya, hanya seorang single parent dan…” aku tepekur tidak cukup lama, hingga berhasil menemukan bualan yang tepat. “Kini aku tengah menunggu putraku, ia sedang membeli frappy di kedai pojok.” Agaknya Jake telah bertemu dengannya, menilik dari embelem yang sama di gelas kartonnya.

“Itu berita yang terdengar…” Jake berusaha mengarang ekspresi, kendati aku tahu, ia pasti terperangah mendengar kisah isapan jempol itu. “…okay, aku tak bisa berkata-kata,” sahutnya.

“Keberadaan Jims memang agak tiba-tiba,” cericipku, sembari memainkan batang pensil.

“Lalu, kau di sini untuk membantunya mengerjakan tugas?” ia menilik kertas-kertas lisut yang berhamburan di pangkuanku.

“Begitulah, tapi sayang, kau tahu kan, nilai fisikaku yang pas-pasan.”

Jake tergelak. Mungkin ia mencibir atau ikut terpingkal bersamaku, meratapi tugas persamaan permitivitas listrik milik Jims yang keparat. “Kau memang tidak berubah,” sergahnya, di sela-sela derai tawa.

“Jenna!” Jims menandak-nandak, mengacung-acungkan frappycrap yang baru saja dibelinya.

“Hei, Jims. Kenalkan temanku, Jake,” sergahku. Jake tersenyum riang, memindahkan gelas karton itu ke sembiran kursi, lalu menjulurkan tangannya.

Nice to meet you, Jake.” Ia balas bersalaman. “Oh ya, kau Jake Lewis itu kan? Si Supermodel Milan?”

“Hush!” Aku mendelikkan sebelah mata ke arah Jims. Rupanya ia ingin menjadi biang onar. “Maaf atas frasa konyol itu ya, Jake. Jims memang sering seenaknya menilai orang.”

Jake mengacak rambut Jims. “Tidak perlu khawatir. Panggilan itu cukup keren untukku.”

Mau tak mau aku ikut terkekeh, sembari menyembunyikan rasa rikuh di baliknya.

“Agaknya kau memang keren, Jake. Jenna mengumpulkan ribuan foto dirimu di—” Bekapan tanganku tak serta merta membuat Jims berhenti mengoceh. Namun, cericip cempreng itu terdengar kian menjengkelkan, kala menggaung tak berujung. Sontak aku mencengkeram kedua bahunya. Gosh! Jika bukan karena selembar tiket Smashing Pumpkins pasti sudah kuremukkan ubun-ubun kepalanya. Roman wajahku berubah dalam sepersekian detik, memicing geram ke arah Jims yang memasang cengiran andalannya. “Ups, apa aku salah bicara?” tanyanya, dengan ekspresi kuyu.

“Jims, kau bisa pergi sekarang. Ini, kau beli saja Earl Grey plain untukku,” aku menghela napas, melirik ke arah samping.

Jims meraup tangkupan penny itu di tanganku dan berlalu dengan seringai jahil.

“Jadi, yang Jims—” Jake tak sempat berkomentar.

“—baiklah, Jake. Maaf soal kebohonganku barusan,” aku mulai mengaku. “Jims… yeah, dia sepupuku.”

“Jujur, aku sempat tertipu. Wajah kalian memang… er, yeah sedikit mirip.” Ia menyipitkan sebelah mata. “Dan mengenai kata-kata Jims tadi, aku turut senang mendengarnya.”

“Kata-katanya soal mengoleksi ribuan fotomu? Itu terdengar norak, sesungguhnya.” Gelak tawaku lebih mirip dengan ringis lirih yang dibuat-buat.

“Tidak, tentu tidak sama sekali. Aku malah senang mendengarnya.” Ia mereguk teh itu hingga tandas ke dasar gelas. “Oh ya, apa kau menghindariku selama ini?”

Aku terdiam.

“Mengapa kau tak menghadiri pesta reuni bulan lalu? Asistenku bilang ia telah mengirimnya ke alamat yang tepat. Kau tinggal di kondominum, sekitar Hyde Park kan?”

Leherku terganjal terlalu lama. Menggantung seperti petala di langit Frisco; sebentar-sebentar berjengit naik, alih-alih mengangguk sebagai tanda ‘iya’. “Kau tahu tempat tinggalku?”

Well, aku bertanya pada Mrs. Penrose mengenai itu.”

Tidak dapat terelakkan, ibuku pasti masih mengira bahwa kedekatan kami masih sebatas teman sejawat.

“Aku sedang sibuk mengejar deadline beberapa desain. Jadi, aku tak bisa hadir. So, I’m sorry.” Kalimat itu mungkin tak terlalu terlambat untuk diungkap.

“Sayang sekali, kukira hanya diriku yang harus menjibakui schedule segudang.”

Aku tak jadi merangkai dalih kedua. Tatkala ia berkacak pinggang di sanding bench taman. “Apa kau sudah harus pergi sekarang?” tanyaku.

“Agaknya begitu. Tapi, kau harus menebus reuni bulan lalu, apa kau setuju?” Alisnya berjengit; kontur kaukasian itu tersenyum culas ke arahku. Dan sesungguhnya aku benci acara ramah-tamah semacam itu. Apa lagi yang ditunggu orang selain menyaksikan Penny Throne menghancurkan harkatku di depan para kerabat, rasanya konotasi itu sudah menjadi rahasia publik. Terlebih, kini Jake—mantan kekasihnya sekaligus cinta pertamaku dulu—malah menggelarnya secara sepihak. Aku yakin, Penny Throne yang tadi  ia elu-elukan pasti akan menyembulkan muka di sana.

“Jen?” panggilan Jake memotong lamunanku.

Okay, aku memang membenci acara reuni, tapi kuharap permintaan barusan tidak kelewat tidak masuk akal.”

“Aku mengerti maksudmu, tapi aku yakin, kau pasti menyukainya untuk acara semacam ini.” Jake berjalan mendekatiku. “Percaya atau tidak percaya, aku menyesali perkataanku dulu. Sorry untuk skandalku dan Penny Throne. Tapi sekali lagi, kuharap kau mengampuniku.”

Kali ini aku benar-benar bungkam. Alih-alih memasang roman muka pilon, leherku merunduk. Jauh-jauh, menghindari tatapan kami yang akan bersirobok.

So, sampai jumpa minggu depan,” pamitnya, mengangsurkan sebuah amplop cokelat ke arahku. Aku tak sempat membuka hingga punggung kekar itu kian mengerdil dan bercampur baur dengan khalayak.

Sejurus menghela napas. Aku membuka amplop Jake dan mendapati dua lembar tiket Smashing Pumpkins di dalamnya. Jangan lupa mengajak Jims. Kau harus berterima kasih padanya dan Candace, ujar notes kecil yang bergelayut di belakang.

“Hei, Jim! Hentikan permainan petak umpet renikmu! Aku tahu, kau berada di balik perdu kan?” Tak perlu tedeng aling-aling, aku mendelik ke arah kiri. Jims menggaruk-garuk kepalanya sembari memamerkan senyum cerdik.

11 thoughts on “Frappy, Jimmy, Epiphany

  1. Hai A,

    Penggalan kisah yang menarik dan hidup. Jujur, pertama kali saya membacanya, saya sedikit terpana dan merasa malu menyadari kosa kata bahasa Indonesia saya payah sekali🙂

    Saya tertarik sekali untuk mendengar lebih banyak kisah masa lalu antara Jake dan Jenna. Jenna terlihat seperti tokoh yang menarik, bukan seorang nanny biasa, yang sedikit mengingatkan saya pada buku The Nanny Diary (atau Diaries ya?) yang saya baca bertahun-tahun lalu.

    Sampaikan salam hangat saya untuk Jenna, saya harap kita bisa mendengarkan vokalis Smashing Pumpkins menyanyikan Ava Adora bersama-sama🙂

    • Hai juga O, yang di sana. Salam kenal😀

      Senang rasanya ada yang melipir kemari. Saia amat mengagumi setiap author di sini lho, rasanya hati ini menciut jika membandingkan tulisan saia dan tulisan-tulisan lainnya.

      Wah, suka Smashing Pumpkins juga? Sebenernya nama band ini terinspirasi dari konser pertama yang ditonton oleh Gerard Way dan Mikey Way (My Chemical Romance). Mari mendengarkan bersama-sama.

  2. Salam kenal!
    Haha, sama… tapi nggak apa-apa kan sekalian share –> muka badak mode on😛

    Suka dengerin sih jaman dulu, suka pakai lirik-liriknya buat dimasukkin ke cerita hehe. Gitarisnya kan jadi penyanyi solo. Lagu-lagu dia bagus, lho. Pernah denger?🙂

    • Baiklah, saia bakal mencoba buat bertebal muka juga *pede dikit*

      O, begitu toh. Smashing Pumpkins sepertinya band tahun 80-an (saia masih entah di mana itu). Saia baru dengar beberapa, yang Ava Adora tadi asyik sekali lagunya.

  3. La-lagu dan band apa itu? <—- makhluk gua sejati yang lebih tau tokoh-tokoh Jane Austen daripada artis.

    Kosakatanya azure mengagumkan ya ckckckckck… Sekilas, kesannya kaya baca terjemahan, tapi indo banget. Fusion?

    Sudah jadi rahasia umum kalo semua author di sini gampang minder… termasuk saya. Tapi percayalah, kita akan menjadi lebih baik bersama-sama🙂 mari terus menjajakan kata, walau hanya sebongkah dan seuntai.

    Kembali ke cerita, mungkin harusnya category nya diubah menjadi cerbung? Kesannya, belum selesai🙂

    • Er, itu… apa ya? (diikutan digampar)
      Itu band rock alternatif sebenernya hahaha.

      Aduh, gak juga kok. Kosakata saia pas-pasan banget ini. Merepet ke yang sebelum-sebelumnya. Hahaha. Mungkin? Fusion. Saia kebiasaan nulis terjemahan sih, tapi kadang suka pake diksi lokal jadi kesannya begini.

      Setuju sekali. LOL. Amin deh, tapinya.
      Er, cerbung ya. Saia males ngelanjutin cerita ini sebenernya /digampar.

    • @Omi: Ahahaha… Kalo bisa bener-bener ngga minder (lagi)… *todong resep*

      @anthea: Setuju *plokplok* ayo dong, post! ga sabar niiii…

  4. Hai Azura,

    Bolehkah komentar untukmu saya pajang disini, alih-alih akun livejournalmu? Oke, ada beberapa catatan yang mungkin terlupakan sejak perbaikan dengan saya beberapa waktu lalu.

    Pembagian paragraf dialog.

    “Jims, ini ide yang buruk,” sentakku, menerawang ke arah samping. Jimmy Howard tengah berasyik masyuk, menggauli manekin superhero-nya.

    “Hei, Jims!” pekikku, melirik dengan tatapan sinis.

    Setahu saya—lagi-lagi hanya berpedoman pada nasihat editor dan beberapa panduan di modul kepenulisan—, untuk dialog dari satu tokoh yang sama, sebaiknya disatukan dalam satu paragraf. Dengan catatan, paragraf tersebut terlalu panjang dan harus dipisah, maka penulisannya :

    “……………

    “…………….”

    Perhatikan pada akhir paragraf pertama yang tidak diakhiri petik tutup.

    Selebihnya tidak ada masalah, selain, good job. Rasanya ini kali pertama membacamu menulis cerita bertema chicklit.

    • Hai juga Gillian,

      Thanks koreksiannya, saia memang masih agak sedikit ambigu dalam membagi paragraf. Hehe. Barusan koreksianmu sudah saia terapkan kok.
      Dan thanks juga sekali lagi buat penjelasannya mengenai tanda kutip separonya, saia memang sering menjumpai tipe kalimat langsung yang seperti itu, terutama di novel terjemahan fantasi yang penjabarannya super panjang-lebar tapi memang saia tidak begitu maksud gunanya, sampai dirimu memberitahu sekarang/

      Er, iya. Ini chicklit sekali ya?
      Saia lagi gemar mengonsumsi chicklit sih. LOL.

  5. Lagi-lagi, rasanya saya sudah pernah membaca cerita ini sebelumnya dan bukan di lapak ini. Hmm, nampaknya saya sudah terlalu sering berlompat-lompat blog. *mikir*

    Ahem. Okay. Soal ceritanya … I agree. Physics is a bitch. Saya bersyukur tidak perlu bertemu dengan pelajaran itu di perkuliahan ini. Secara keseluruhan cerita ini ringan, dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan cukup menarik. Hanya saja, pemilihan nama karakter yang mirip (Jenna, Jake dan Jims, semua berawalan huruf J) sempat membuat saya bingung dan tertukar antara Jake dan Jims. Then again, mungkin itu karena kemampuan memproses informasi otak saya yang sudah melambat akibat larutnya malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s