[She Says] Episode 1: Dia, Dia, Dia


“Kamu bener-bener perlu meluangkan waktu buat ngebersihin kamar ini.”

Dia duduk di meja kerja gue, dengan rokok menggantung dari mulutnya. Gue bahkan nggak mau repot-repot ngebales komentarnya itu.  Urusan beresin kamar itu emang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.  Percayalah, seorang Taya Kadhita sudah berusaha selama bertahun-tahun untuk membersihkan kamarnya.  Sayang, motivasi itu udah keburu kabur sebelum gue berhasil menyeret vacuum cleaner ke kamar gue.

Dalam diam, dia menghembuskan asap rokoknya waktu gue dengan susah payah membuka paksa satu-satunya jendela di kamar gue.   Engsel-engsel jendela malang itu merengek meminta pelumas, tapi sayangnya napas dompet gue bulan ini lagi Senin-Kamis.  Dia masih dengan cueknya menghembuskan asap rokoknya ke luar jendela, dan meskipun gue sok-sok cuek ngeringin rambut, gue tahu kalau tatapannya tertancap ke punggung gue.  Gue mencoba untuk tidak bertanya-tanya mengapa dia masih di sini,  di apartemen gue, di kamar gue, mengisap rokok kreteknya yang di sini dijual seharga satu paket makan siang, dan mengeluh tentang kamar gue yang berantakan.

Dia seharusnya sudah pergi sejak lama.

Karena nggak kunjung mendapat jawaban kenapa dia betah banget nangkring di kamar gue, akhirnya gue mencoba untuk fokus pada sosok lain di kepala gue.  Si you-know-who.  Jantung gue berdebar lebih kencang ketika senyumannya muncul dalam kepala gue.  Membayangkan betapa jauhnya si you-know-who malam ini dari gue tiba-tiba bikin gue desperado.  Apalagi karena sebagai gantinya si you-know-who, gue malah ditemenin secara suka(nggak)rela sama dia.  Di tengah pengapnya udara malam ini, kehadiran dia sama sekali nggak diharapkan.  Gue lebih milih masuk mobil dan cabut  tanpa tujuan sampai bensin mobil gue nyaris abis daripada duduk berduaan di dalam ruangan pengap ini dengan dia.

Gue tiba-tiba tercenung, menyadari betapa enggannya gue berbagi waktu bersama dia.  Yah, lebih tepatnya, enam bulan belakangan ini.  Kayaknya hampir gosong otak gue dalam upaya buat mengakhiri kebersamaan gue dengan dia.  Tapi semua usaha gagal.  Mau nuker status Facebook dari in a relationship ke single aja segini susahnya.

Kalau dipikir-pikir, aneh juga ya.  Orang yang selalu mengisi hati dan pikiran elo bisa tiba-tiba menjadi orang yang paling pengin elo hindari.

How can you trust your feelings when they can just disappear like that?
Gue menoleh, menemukan dia masih sibuk menghisap rokoknya.  Akhirnya, dalam diam gue  memutuskan bahwa jika dia di sini untuk memulai sebuah percakapan, gue nggak akan memberikannya sebuah kepuasan dengan membantunya memulai whatever conversation he’d like to have with me.

Taya Kaditha, 27 tahun, akhirnya memutuskan untuk berhenti mencoba.

14 thoughts on “[She Says] Episode 1: Dia, Dia, Dia

  1. Halo, halo… Ominous?
    Saia suka dengan fiksi pendeknya, asyik sekali untuk dibaca. Bener-bener ide yang sering berkelebat di dunia nyata dan kamu menuliskannya bagus banget.
    Paling bikin terperenyak tuh bagian:
    “Kalau dipikir-pikir, aneh juga ya. Orang yang satu bulan lalu selalu mengisi hati dan pikiran elo bisa tiba-tiba menjadi orang yang paling pengin elo hindari keesokan harinya.”
    Setuju banget deh sama tulisan ini.
    Keep writing.

  2. Iya, kalimat yang azure kutip, juga pertanyaan bagaimana kita bisa mempercayai perasaan yang fleeting abis, menohok.

    Terima kasih udah buka pintu ke dunia Taya🙂

    Cuma, saya agak ga ngerti kalimat terakhir… mencoba apa ya kira-kira?

  3. Hai pemilik Taya, sepertinya kau melewatkan sepatah kata dalam bagian ini :

    “Gue lebih masuk mobil dan cabut keluar tanpa tujuan selama berjam-jam sampai bensin mobil gue nyaris abis daripada duduk berduaan di dalam ruangan pengap ini dengan dia.”

    Dan bagian ini nuansa repetisi terasa begitu kental. Tidakkah seharusnya mereka dipersatukan dalam rangkaian majemuk bertingkat atau setara daripada dipisah dengan konsekuensi pengulangan? (sekedar saran)

    “Gue tiba-tiba tercenung, menyadari betapa enggannya gue berbagi waktu bersama dia belakangan ini. Yah, lebih tepatnya, enam bulan belakangan ini. ”

    Serta bagian ini,

    “Orang yang satu bulan lalu selalu mengisi hati dan pikiran elo bisa tiba-tiba menjadi orang yang paling pengin elo hindari keesokan harinya.”

    Sebetulnya alternatif time antara Taya dengan sosok berasap rokok itu enam bulan, satu bulan, atau tidak keduanya?

    Overall, konsepnya lucu dan menarik. Serta membuat adrenalin bergolak menunggu kelanjutan cerita.

  4. Hai, Gillian Anthea!

    Wow, terima kasih atas koreksinya ya! Haha, senang sekali mendapatkannya. Maksudnya bagian yang repetisinya terlalu kental itu yang mana ya, btw? Maafkan saya kebanyakan tidur di kelas bahasa hingga lupa apa itu majemuk bertingkat.

    Oh ya, yang Taya katakan di paragraf:

    “Orang yang satu bulan lalu selalu mengisi hati dan pikiran elo bisa tiba-tiba menjadi orang yang paling pengin elo hindari keesokan harinya.”

    sebetulnya dia hanya menciptakan kalimat itu, tanpa ada hubungannya dengan timeline cerita dia dan si perokok yang sudah basi selama enam bulan. Gimana ya cara saya menjelaskannya? Hihi, at lost for the exact words.

    • Err, maaf atas kerandoman komentar saya. Seandainya kolom komentar bisa memberikan highlight tentu akan jadi lebih mudah. Maksud saya, pengulangan kata “belakangan ini” pada 2 kalimat yang berdekatan tersebut. Apakah tidak sebaiknya disatukan saja menjadi :

      Gue tiba-tiba tercenung, menyadari betapa enggannya gue berbagi waktu bersama dia belakangan ini. Yah, lebih tepatnya, enam bulan.

      atau

      Gue tiba-tiba tercenung, menyadari betapa enggannya gue berbagi waktu bersama dia tepat enam bulan belakangan ini.

      Saya hanya mencoba memberi alternatif, meski penulisanmu diawal pun juga tidak salah, hanya kurang efektif.

    • *angkat tangan* mungkin supaya lebih rapi:

      Orang yang selama ini selalu mengisi hati dan pikiran elo bisa tiba-tiba menjadi orang yang paling pengin elo hindari.

      Jadi timeline-nya samar, dan ngga jadi rancu? Ah tapi sekedar saran sih😛

      • Saran diterima!
        Makasih ya, setelah ditilik, timeline-nya memang jadi agak rancu. Makasih, flow ceritanya jadi terasa lebih rapi🙂

  5. … Kalimat pembuka dari cerita ini bagaikan tonjokan langsung ke ulu hati saya. *melirik ke arah kamar yang penuh ceceran coretsampahcoret barang* Cerpen yang menarik dan membuat penasaran, walaupun sampai akhir entah kenapa masih terasa menggantung, untuk saya. Mungkin karena nggak ada penjelasan si you-know-who itu siapa dan kenapa Taya tiba-tiba tidak mau bersama dengan pria yang ada bersama dengannya itu. Duh, bahasanya muter-muter. DX Secara keseluruhan, cerita ini menarik dan pasti akan lebih menarik lagi kalau diperpanjang. *grins*

    • Dalam pembelaan diri saya, saya berkata bahwa kamar berantakan adalah bukti bahwa kita terlalu serius bekerja hingga lupa dengan hal yang lain. Hahahaa :p

      Terima kasih untuk kunjungannya, ya!

  6. “Kalau dipikir-pikir, aneh juga ya. Orang yang selalu mengisi hati dan pikiran elo bisa tiba-tiba menjadi orang yang paling pengin elo hindari.” ini juga keadaan aku sekarang.

    entah jangan2 aku reinkarnasi Tara? hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s