Gadis Penjaja Kata


 

Sebongkah kata, Tuan? Seuntai kalimat, Nona?

Yang kuinginkan hanyalah sedikit waktu sebagai gantinya. Kata-kataku bisa dipegang, dan, jika kau rela dituntun perlahan, akan membawamu ke alam keajaiban….

Bersediakah?

Ada dunia imaji yang terbentuk oleh kata. Berbeda-beda, tergantung bagaimana kau menyusun mereka. Dengan kata yang tepat, biasan cahaya fajar merekah di ufuk timur pegunungan. Dengan kata yang tepat, rintik gerimis hujan syahdu merinaikan penghantar tidur di luar jendela. Dengan kata yang tepat, cadar putih kabut turun di atas muka gunung. Langit terbuka. Semesta bernyanyi. Insan jatuh cinta.

Tentu saja, ada banyak kata bertebaran dalam ladang sanubari. Mari menuai diksi; ini musim panen fiksi. Benih-benih kosakata yang disemai dan dibiarkan berakar, kini menggoda dalam keranuman mereka.

Pilih yang mana, pilih yang mana? Perasaan dan imaji berseliweran, masing-masing memilih dan menimbang dengan seksama hingga ke akarnya, kata mana yang akan menjadi tumpangan terbaik untuk sampai kepadamu… lalu mereka akan menyerahkannya padaku.

Ini aku, gadis penjaja kata. Tapi hanya pada hening malam. Siang hari, aku milik dunia yang mereka sebut nyata.

“Tak ada yang mau membeli kata yang kau tawarkan,” begitu kata mereka.

“Kami tak mengerti,” begitu kata mereka.

“Jangan bermimpi,” begitu kata mereka.

Sialnya. Dalam dunia keras yang kerap tertidur tanpa mimpi, aku bermimpi bahkan ketika aku terjaga.

Tak bisakah mereka melihat peri-peri kecil tak kasat mata, duduk di atas pepohonan bercabang landai itu? Mereka menyanyikan dongeng ribuan tahun kepadaku. Pepohonan itu sendiri juga punya rahasia. Akar-akar mereka yang timbul di permukaan siap bergerak saat kau tak awas memperhatikan. Bebungaan punya sejarah. Bebatuan punya kisah.

Sayang, mereka sama sekali tak melihatnya.

Oh ya, mereka bisa melihat pemain piano mewah itu di tengah ruangan. Mereka tahu si kutu buku ada di sudut ruangan. Mereka menegur si pembersih lantai karena terlena beberapa detik musik. Tapi, terbayangkah mereka?

Si pembersih lantai yang renta melamun memeluk sapu, mungkin membayangkan istrinya yang sudah tiada, berdansa pelan bersama. Si kutu buku sama sekali tak bisa mendengar musik itu, mungkin karena hatinya digerogoti kuatir akan masa depan. Si pemain piano memainkan lagu sendu dengan tatapan menerawang, mungkin membayangkan kekasihnya entah di mana.

Aku punya jalan masuk menuju dunia sarat warna dan khayal, tapi mereka menolak melihatnya. Mereka ingin dunia yang pasti, yang bisa diukur dengan angka dan jangka. Menurut mereka duniaku bodoh. Menurutku dunia mereka miskin. Bukan dunia yang kuinginkan, namun nyatanya masih ada tempat untukku di sana. Aku tahu, jika aku menerobos keluar, luka akan makin menganga di banyak jiwa. Kata-kataku seharusnya ajaib, kata-kata yang menyembuhkan, bukan penghancur perasaan. Jadi, aku tetap tinggal. Kunina-bobokan impian yang datang, menyelimutinya hati-hati, berharap ia tak hancur saat terbanting tulang. Lalu aku pun menyesah peluh. Sinarku mengeruh.

Malamnya, terlindung dari cercaan dan mata yang tajam menusuk, aku menyeret serpihan kering tulang dan impian ke tepian doa. Menghiba, bersimpuh kelelahan aku di hadapan Dia, sang empunya segala keindahan yang pantulannya kucoba tangkap dalam kata-kata sederhanaku.

Sia-sia belaka. Aku hendak hancur kehilangan kata.

Tapi, Ia mengambil kirbat-Nya yang berharga, lalu mengisinya dengan tetes-tetes airmataku. Aku yang merasa gagal, dianggap-Nya harta. Dianggap-Nya tercinta.

“Aku melihat yang tidak manusia lihat,” kata-Nya lembut, “Kerjakan bagianmu. Biar kukerjakan bagian-Ku.”

Ah, rupanya ketulusan yang sungguh sudah cukup untuk-Nya. Kirbat itu pun Ia tuang, dan di tangan-Nya sesuatu yang hancur menyedihkan menjadi indah berkilau. Yang tadinya hasil duri menyelekit, kini menjaram rasa, menjaram asa. Ladang sanubari ini sejuk tergenang. Benih-benih tumbuh subur. Ide menguning, kata-kata siap dituai.

“Ini bagianku,” jelasku pada setiap imaji dan perasaan.

Memikul semua kata pilihan mereka, tertatih kuhampiri para ahli poles.

“Tolonglah supaya menjadi lebih baik,” pintaku.

Poles, poles, poles. Gosok, gosok, gosok. Semoga jadi halus. Semoga jadi berkilau. Semoga dicintai. Semoga menyentuh kehidupan.

Poles, poles, poles. Gosok, gosok, gosok. Kuusir kantuk. Kuganjal mata dengan harapan. Kubebat tulang dengan tekad. Ada mimpi sekarat yang harus kubela.

Malam ini pun, aku menyapa sang Empunya Kirbat sebelum membangunkan mimpi.

“Terima kasih untuk mimpi, yang menentramkan di malam sepi. Aku percaya tanpa tapi,” bisikku.

Pernahkah kau bertemu dengan aku, si gadis penjaja kata? Aku berkelana dari rumah ke rumah, semua terbuat dari kue, krim, cokelat, dan halamannya penuh kembang gula. Inikah rumah tempat impian terbit? Entah. Yang pasti, Mitraku di seberang langit punya rencana. Dia pun sedang berkarya.

Aku lantas membuka lapak dan kembali menjajakan kata.

Sebongkah kata, Tuan? Seuntai kalimat, Nona?

Image taken from home.biba.blogspot.com

25 thoughts on “Gadis Penjaja Kata

  1. tulisan ini keren banget deh, saia melongo lho bacanya. kok ada sih yang kepikiran mempertanyakan pertanya-tanyaan kayak gitu?
    besok-besok harus ada di Kompas ya. lol.

    • *tersipu* terima kasih!
      Soal pertanyaan, itu emang pertanyaan saya, karena tampaknya yang saya lihat, kadang orang ga lihat. Yang orang lihat, saya ga lihat :’D

      Ko-Kompas? *glek* amin! Saya edit dulu ya!

  2. Jangan pernah berhenti berharap karena tidak ada ‘rumus mati’ untuk memperkenalkan kata-kata ini pada khayalak luas. Mari, kita antar mereka menuju rumah dimana mereka diterima apa adanya🙂

    • Terima kasih komennya… Semoga suatu saat ada yang mengakui hihihi…

      *lalu berdeham* Seuntai kalimat, Nona? Penjaja kata yang lain, semua menawarkan keistimewaannya masing-masing lho, selamat menikmati🙂 *penjaja mode on*

  3. Oke, komentar saya dimulai dari sini, karena tulisan ini pemicu awal berkumpulnya gadis-gadis penjaja kata yang terserak diantara deret linimasa. #eh

    Pertama dan terakhir, saya menegaskan tulisan ini juara. Polesan diksinya terasa begitu elegan dipadankan dengan kesederhanaan alur dan teknik penuturan sang gadis. Catatan saja *setelah membaca berulang-ulang dan menghabiskan berlembar tissue untuk menyeka air mata* kira-kira dimana sang gadis menjajakan aksaranya? Apakah di sebuah bilik minum tempat pemain piano dan pembersih lantai mungkin disatukan, atau tengah mengilustrasikan sebuah tempat dimana pemain piano dan pembersih lantai berada pada saat yang bersamaan? Tapi, dari sekian itu yang membuat hati saya kian tersentuh adalah monolog sang gadis dengan Empunya keindahan. Semakin menyadarkan saya bahwa Ia penguasa plot dan alur dimana kita mengembalikan ending setelah menambahkan konflik dan intrik.

    Gsan dear, jangan lupa menghilangkan tulisan ini dari blog—atau minimal memproteksinya, ketika harian Kompas memberimu pernyataan resmi bahwa gadis penjaja kata siap dicetak secara masal pada suatu pagi di hari Minggu.

    • Nanti mungkin, saat saya sudah cukup puas dengan editan saya, waktu dikirim ke Kompas, akan saya kasih catatan tentang keberadaannya di blog ini… begitu aja kali ya? *bingung soalnya amatir 100%*

      Orang-orang yang disebutkan di atas, hanyalah adegan yang lewat di pikiran si gadis. Nanti waktu mengedit, akan saya usahakan perjelas. Soal dialog saya, ah bukankah memang begitu? Mengejar mimpi di dunia yang menganggap itu suatu kebodohan, memang bisa membuat kecil hati dan merasa gagal kan?

      Lagi-lagi, kalau dipuji seperti itu, rasanya ga layak *kubur muka* tapi terima kasih ya, ada yang mau baca aja bersyukur, tapi tulisan ini dicintai lho, dicintai :’) beruntungnya!

      • Setahu saya, jika sebuah karya dimuat di media cetak, baik buku maupun majalah—dalam hal ini koran—, ia tidak boleh beredar secara maya lagi, karena hak publikasi sepenuhnya berada pada mereka. Kira-kira begitulah maksud saya. #Pengalaman

    • Soal itu saya kurang tahu, tapi biasanya cuma penulis-penulis besar saja yang membukukan postingan blognya (Dewi Lestari) atau membukukan cerpen-cerpennya dari koran (Djenar Maesa Ayu). Berdasarkan pengalaman waktu menerbitkan buku keroyokan yang kemarin, penerbitnya minta untuk menghapus semua postingan di blog mengenai cerita yang diterbitkan, begitulah…

  4. Ahem. Pertama-tama, salam kenal, para penjaja kata yang cantik nan menawan. Saya seorang pembeli. Ini kedatangan pertama saya di lapak kalian ini atas dorongan (tepatnya koersi) dari salah satu penjaja di sini. Tak usah sebut nama, sebut saja inisialnya yaitu G.A dan nama twitternya, yaitu @AntheaFeather.

    Tapi, saya berterimakasih kepada Nona itu karena telah membawa saya ke lapak mungil dan menawan ini. Syarat darinya cukup menantang dan ini adalah langkah awal saya berusaha memenuhi syarat itu.

    Cerita ini sebetulnya sudah pernah saya baca, dulu, karena tautan yang diberikan oleh G.A dan, seperti yang telah saya katakan kepadanya, karya ini memukau saya. Diksi-diksi yang begitu menawan, rima yang mengalir dengan nyaman, serta inti cerita yang menyentuh. Semua bahan-bahan itu teramu dengan sempurna di cerita ini. Saya hanyalah seorang penulis pemula, belum cukup pandai merangkai aksara seindah ini, karena itu saya benar-benar terpesona dengan tulisan ini. Semoga akan semakin banyak karya berkualitas tinggi seperti ini yang berjajar di toko buku nantinya.🙂

    Perkenankan saya menjadi pembeli tetap bongkahan kata dan untaian kalimat dari kalian.🙂

  5. Ada pelanggaaaaaannnn! *heboh*

    Selamat datang! Saya terutama, juga penulis yang pemula sekali. Terima kasih banget ya! Saya betul-betul senang dan menghargai setiap apresiasi yang ditunjukkan, baik berupa kritik/saran/pujian. Sungguh bahagia kalau tulisan ini bisa menyentuh hati yang membaca.

    Silakan, jangan bosan ya berkunjung ke lapak kami ini!

  6. Gadis cantik, saya orang buta ingin memesan seuntai kata. Bukan yang manis atau pahit, jangan juga yang panas maupun dingin. Saya ini buta, yang saya mau adalah indra untuk melihat air mata di belakang gelak tawa palsu. Aku ingin kisah sejarah di balik setiap kasarnya gores luka, apakah kau menjualnya? Berapa pun harganya, akan kubeli bila aku bisa melihat secarik harapan di ujung lolongan kepasrahan. Jualah kepadaku, sepasang mata.

    • Lg stress ya loe Ar? Ahahaha… Sampe kaget, taunya loe *ngakak

      Wahai orang buta, terkadang ada cahaya di ujung pena.
      Namun pelita hanya milik kata2 sang empunya keindahan.

  7. gadis penjaja kata. semua orang membaca tulisan dengan 2 mata, mata hati dan sepasang mata. aku memang memiliki sepasang mata yang melekat diwajahku. aku juga bisa membaca untaian katamu dengan sepasang mata yang ku miliki. namun, yang ku ingin adalah satu. memiliki mata hati yang masih bisa terbuka, tidak dibutakan cinta, nafsu dan keinginan sementara agar ku bisa membaca untaian katamu juga menggunakan mata hati. agar semua yang ku baca bisa ku ambil amanatnya.

    bukankah semua cerita, pasti memiliki amanat dibelakangnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s